Apa yang membuatmu takut?

4
Selasa, April 21, 2015
Apa yang membuatmu takut?

Takut Tuhan?

Takut dengan kematian?


Ya ya ya ya... kalau jawaban seprti itu rasanya wes biyasa....

Lalu, apa yang membuatmu takut...

Takut akan ketinggian.

Pernah nggak menengok ke bawah dari lantai 5 sebuah gedung, iya padahal hanya di lantai lima, untuk ukuran normal sih biasa - biasa saja. Tapi, bagiku menengok ke bawah seperti ditarik oleh daya magnet yang luar biasa, seakan - akan melihat tanah yang terus menerus lebar dan mendekat. Terasa hawa dingin di telapak tangan, ada segerombolan semut yang berjalan lincah di telapak tangan. Dahi yang terletak di antara kedua mata terasa berat, pusing, mual, bukan, bukan karena aku hamil. Kaki bergejolak, merasakan lemas tak berdaya, berkeringat dingin, rasanya berat untuk melangkah, jangankan melangkah, berdiri dengan tegap rasanya harus benar - benar memberanikan diri sekuat mungkin, seakan kakiku tak ada tulangnya, lemas. Dan rasa takut semakin hebat, dan imajinasi semakin liar,  mungkin nantinya tak sadarkan diri terjun dari lantai lima hanya karena seakan - akan ada yang menarikku dengan kuatnya.


Tolong temani aku, di sampingku.
Read more ...

Ngomongin Film "Birdman"

8
Kamis, Maret 05, 2015


Kali ini mau menulis yang ringan – ringan saja di blog ini, masih boleh dong bahas tentang salah satu pemenang OSCAR 2015 yaitu film Birdman (The Unexpected Virtue of Ignore) yang menyabet 4 gelar pemenang yaitu Best Picture, Cinematography, Directing dan Original screenplay). Wow banget ya penghargaan yang diraih Birdman ini.

Akhirnya penasaran dong seperti apa film Birdman itu, karena aku lebih suka nonton film tanpa harus melihat trailer maupun review dari orang sekitar, akhirnya nonton film benar – benar “kosong” nggak tahu jalan ceritanya seperti apa, siapa yang memerankan, hanya tau genre film tersebut komedi dan sedikit drama. Jadi, penilaian terhadap film ini benar – benar dari apa yang aku lihat, bukan “terkontaminasi” dari orang lain.

Sekitar lima belas menit, aku benar – benar masih belum “nyambung” apa yang disampaikan oleh film Birdman ini, “menelan” perlahan – lahan, banyak karakter di dalam film Birdman, entah itu anaknya yang kecanduan sejenis ganja, istri (atau teman dekat) yang hamil kemudian meninggalkan si Birdman tersebut, teman – teman si Birdman dalam pementasan opera yang sudah memiliki konflik tersendiri.

Oke, mulai memahami si Birdman. Si Birdman ini merupakan esk bintang film si Birdman. Setelah pension dia ingin melanjutkan karir (sebagai bukti eksistensi) ke seni pertunjukkan (seperti drama boardway), namun masih dibayang – bayangi oleh karakter Birdman yang dulu ia perankan. Kehidupannya tak selancar yang ia harapkan, istrinya minta pisah, anaknya yang kecanduan ganja kemudian memiliki hubungan dengan teman pementasannya (tidak lain tidak bukan merupakan saingan si Birdman dalam pertunjukkan).

Kemudian…

Criiiiing…

Aku gagal paham lagi.

Loooh, eh.. loh.. ini kok bisa sulap gitu si Birdmannya.

Iya, di film tersebut si Birdman dengan mudahnya memindahkan benda dengan dengan menjentikkan jari. Entah apa maksundya, apakah itu hanya kiasan yang dibikin oleh sutradara, atau emang benar si birdman bisa seperti itu.

Lama kelamaan..

Eh… ini apaan lagi.. loh kok ada Birdman beneran..

Iya, kemudian muncul sosok Birdman sungguhan, sosok pria dengan kostum Birdman. Mungkin ini hanya filosofi saja kalau si Birdman memang sedang berperang dengan dirinya sendiri.

Ending cerita yang bagus, si Birdman mendapatkan apa yang dia inginkan, kesuksesan meskipun banyak yang ia korbankan, si Birdman benar – benar menjadi Birdman yang terbang menjulang ke atas.

Meskipun kira – kira 54% secara sadar nonton film, sisanya agak meragukan “Apa benar maksud dari film Birdman ini sama dengan yang aku tangkap saat nonton filmnya.”

Banyak filosofis di film ini, ibaratnya seperti tulisan surealisme, yang menggunakan simbol atau ungkapan untuk menyampaikan maksud. ya istilah anak gaul sih, ada kode – kode saat mau pendekatan.

Bagiku, film seperti ini memang perlu ditonton dua kali, aku sendiri suka dengan film yang gambling. Kalau bikin film misteri, horornya harus dapat, kalau mau bikin film komedi, komedinya ya harus bikin ngakak, kalau mau bikin film yang mikir ya harus yang bikin mengernyitkan dahi.

Sejujurnya malah lebih mengandalkan film The Imitation Game, sebagai pemenang “Best Picture” Karena benar – benar diluar dugaan. Tapi, ya sudah lah mungkin Birdman banyak sisi yang lebih unggul. Banyak pelajaran juga yang bisa didapat dari film ini.

“Terkadang dibutuhkan kerja keras dan pengorbanan untuk meraih yang kita inginkan”.

“Tak perlu banyak mendengarkan mulut orang tentang dirimu, dengarkan saja apa kata hatimu.”


Read more ...

Kain merah untuk lelakiku

1
Rabu, Februari 18, 2015
Selembar kain merah yang dia berikan padaku memang sudah pudar warnanya, entah apa bisa dibilang kain merah, bahkan banyak noda dan tak layak untuk jadikan barang istimewa yang aku simpan di lemari bajuku. Tapi ini bukan sembarang kain, kain ini dari dia. Teman baikku sekaligus teman dari kecil, panggil dia Akbar.

Kain merah ini aku dapat saat ulangtahunku yang kelima, Akbar tak tahu kado apa yang aku suka, akhirnya dia mengambil kain merah sisa dari tukang jahit. Coba saja pikir, bagaimana bisa Akbar tidak mengetahui kado yang disukai oleh perempuan kecil, apa dia tak tahu jika aku terus membicarakan boneka panda yang dijual di depan sekolah. Apa dia tidak tahu jika aku sangat menginginkan boneka panda itu. Tapi, yang dia berikan hanya kain sisa, alasannya kain ini bisa dijadikan sapu tangan cantik karena aku suka berlari hingga keringatku bercucuran tak ada hentinya.

Tapi, karena kain merah ini, aku sudah tahu apa yang aku inginkan selama ini. Bukan, bukan boneka panda, atau kain sisa yang lainnya. Yang kuinginkan hanyalah Akbar, teman yang tak pernah lelah selalu berlari mengikutiku, selalu ada di sampingku saat aku ingin bersandar. Hari ini, hari yang istimewa bagi Akbar, setidaknya, aku ingin mengatakan semuanya.

Akbar berada di tepat di depanku, semakin erat kain itu aku genggam meskipun agak basah karena keringatku.

"Akbar, terimakasih ya. Suka atau tidak suka, aku tetap menunggumu, meskipun itu butuh waktu seribu tahun lagi," ucapku tegas. Akbar terlihat kikuk, aku tahu karena di sampingnya nampak mempelai wanita yang telah menikah dengan Akbar.


Flash fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis
Read more ...