[BeraniCerita #1] Jalan Berkabut

2
Minggu, Februari 17, 2013


“Benarkah apa yang Kau ucapkan kemarin?” tanya Silvi.

“Iya Sayang, kenapa Kau menanyakannya berulang-ulang?” ucap Dimas heran.

“Aku hanya ingin kejelasan saja Sayang,” jelas Silvi.

“Kejalasan apa? Kan kemarin Kita sudah berbicara panjang lebar tentang kepergianku ,” terang Dimas.

“Iya, Aku tahu itu, tapi apakah tidak terlalu jauh melanjutkan study S2 di Australia?” tanya Silvi menahan tangis.

“Sayang, Aku tahu ini keputusan yang sangat berat, tetapi ini yang terbaik buat masa depanku dan masa depan kita, tahu sendirikan Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan study, ini kesempatan emas bagiku, Aku mohon mengertilah Sayang,” ujar Dimas sambil mengusap rambut Silvi dengan lembut.

Silvi tak kuasa menahan tangis, Dimas berusaha menghiburnya.

“Sayang, apa Kamu masih ingat suasana ini?” tanya Dimas.

“Aku tak tahu,” jawab Silvi asal.

“Jalan ini, ya! Jalan yang berkabut, tempat penuh kenangan, dimana Kita sering menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan sambil menikmati hawa yang sejuk ini, romantisme yang kita buat di jalan berkabut. Aku akan merindukan suasana ini ketika Aku akan melanjutkan studyku di Australia,” kenang Dimas.

“Aku sudah tahu alasannya kenapa Kamu menyuruhku datang ke tempat ini, datang ke tempat ini hanya membuatku semakin tak rela Kau tinggalkan,” ucap Silvi yang sudah meneteskan air mata.

“Hei, bagaimana kalau kita lomba lari? Dari sini hingga ujung jalan, seperti waktu dulu, kita selalu berlomba lari, siapa yang tercepat sampai ujung jalan, mentraktir sarapan pagi,”Ajak Dimas.

“Aish… kenapa pada waktu seperti ini Kau malah mengajak lomba lari?” ucap Silvi heran.

“Ayolah, dimulai dari SEKARANG!” aba-aba Dimas dengan semangat.

Dimas telah berlari mendahului Silvi, tapi tampaknya kali ini Dimas berlari-lari kecil agar Silvi dapat mendahuluinya.

“SAYANG!” teriak Silvi dengan keras.

Dimas menoleh ke arah Silvi. CRASSSH!!! Sebilah pisau menghujam ulu hati Dimas! Terjangan pisau dari Silvi tak dapat terelakkan, Dimas menahan sakit dari pisau yang menghujam ulu hatinya, Dimas tersungkur. Banyak darah yang tersembur ke luar, membuat Dimas tak berdaya. CRASSSH!!! Kali ini pisau menghujam tepat di leher Dimas, darah segar yang berasal dari leher Dimas menyembur hingga mengenai wajah Silvi. Melihat Dimas tak bergerak, Silvi mencoba menggoyangkan tubuh Dimas dengan kakinya, memastikan Dimas benar-benar tak bernyawa.

“Sayang, kali ini jalan berkabut yang penuh kenangan, menjadi saksi cinta Kita yang tak terpisahkan,” ujar Silvi.

Kali ini sebilah pisau menghujam ulu hatinya, Silvi tersungkur. Dengan napas yang tersenggal-senggal, Silvi melihat wajah Dimas yang tak bernyawa, Silvi tersenyum bahagia.

Flash fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

2 komentar:

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b