[BeraniCerita#2] Sekali ini Saja

6
Senin, Februari 18, 2013


“Sekali ini saja, Aku mohon,” iba Mala.

“Aku bilang nggak berarti nggak!” jawab Mita.

“Ayolah Kak, sekali ini saja,” paksa Mala.

“TIDAK!” ketus Mita.

“Ayolah, Papa sama Mama juga nggak ada di rumah, kasih ijin dong kak,” ucap Mala.

“Justru Mama dan Papa nggak ada, Aku harus ketat menjaga Kamu,” jelas Mita.

“Astaga, Aku anak paling malang di dunia, umur dua puluh satu tahun, tidak diijinkan mengendarai sepeda motor, hanya karena aku gagal tes SIM, benar juga namaku Mala, kan diambil dari kata MALANG!” ketus Mala.

“Jalanan bukan tempat bermain, tahu sendirikan Kamu kalau nyetir motor gimana, pantaslah Papa, Mama dan Aku khawatir dengan kelakuan yang ngebut di jalan,” ucap Mita.

“Tapi kak, ini acara yang sangat penting,” melas Mala.

“Ulang tahun Cindy itu penting? Perasaan setiap tahun Dia merayakan ulang tahunnya, tunggu tahun depan saja, tahun depan Kamu pasti dapat SIM,” ucap Mita tersenyum kecut.

“Ha! Yang benar saja Kak, hari ini Cindy berulang tahun yang ke dua puluh tahun, ini penting sekali Kak, karena kali ini acaranya diadakan di kafe, pasti banyak yang akan diundang,” ucap Mala sambil membayangkan keriuhan ulang tahun Cindy.

“Kak, sekali ini saja Aku pakai sepeda motor ke kafe, Aku janji akan berhati-hati, apa Kakak tidak kasihan denganku? Aku pasti jadi cewek yang nggak gaul kalau nggak ikut ke acara ulang tahun Cindy,” lanjut Mala dengan cemberut.

Hati Mita mulai melunak, tidak ingin adiknya menjadi anak yang kuper, tetapi Mita juga tidak ingin melanggar aturan dari orangtuanya.

“Baiklah, Kakak ijinkan, tapi ada syaratnya,” ucap Mita mengabulkan permintaan Mala.

“Serius? Apa syaratnya?” jawab Mala senang.

“Kakak ikut denganmu,” ucap Mita.

“Hmm,, baiklah, tapi Aku yang nyetir ya? Dan Kakak tidak boleh ikut masuk ke kafe,” terang Mala.
“Oke!” kata Mita menyetujui.

Seperti biasa, Mala mengendarai sepeda dengan mengebut, perintah dari Mita untuk perlahan-lahan tak digubris oleh Mala, beralasan tak ingin terlambat di acara ulang tahun Cindy. Di depan terdapat mobil berwarnah merah yang berjalan sangat lambat, membuat kesal Mala. Mobil merah tersebut menghalangi jalan Mala, Malapun tancap gas ingin menyalip, tetapi alangkah kagetnya Mala, bahwa arah berlawanan juga terdapat mobil berwarna hitam melaju kencang. Mala tak sanggup menguasai situasi ini, motor Mala oleng, keluar dari jalan, Mala terjatuh dari motor. Lain halnya dengan Mita, badannya ikut terseret mobil berwarna hitam, dan akhirnya terhempas. BRUUK!! Suara badan Mita yang mendarat tepat di bebatuan.

“KAKAAAAAAAK!!” teriak Mala. Tak kuasa Mala melihat badan Mita terbujur kaku penuh dengan luka dan darah. Mala menangis sejadi-jadinya.

Flash fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

6 komentar:

  1. Wah..gimana itu perasaan Mala ya? weehh..bagus Mbak, ada pesan moralnya :)

    BalasHapus
  2. waduhh.. kok jadi mengharukan begitu ya :( mengerikan ih...
    jadi merinding

    BalasHapus
  3. itulah kenapa ada larangan.. kasihan yah, kakaknya malah jadi korban :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mak, udah berkunjung ke sini :-)

      Hapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b