#Pohon : berawal dari sini

6
Senin, Maret 11, 2013
“Hai anak muda, berikan sedikit uang untukku,”


“Ha! Aku tak punya uang,”


“Hai Kau jangan mencoba menipuku, Aku tahu Kau agak aneh tapi Aku tahu Kau punya uang!”



“Ish.. ini uang sakuku selama satu minggu!”


“Ahhh.. cerewet! Cepat berikan uangmu!”


“Ba..baiklah, Aku hanya punya uang segini,”


“Hai! Apa Kau bercanda denganku! Uang ini tak ada harganya! Ternyata Kau memang aneh!”


“Dasar Kau pengemis tua! Aku lebih baik darimu! Hidupku tak sejorok pakaianmu!”


“Apa Kau bilang!! Berani-beraninya memberiku ceramah!”


“Hidupku lebih layak daripada Kamu Pak tua!”

“Untung Kau masih kecil, kalau tidak sudah Ku tampar Kau!”

“Sudahlah! Aku tak ingin berdebat dengan Pria tua yang jorok sepertimu!”

“Hai jaga ucapanmu! Aku seperti ini karena Aku marah dengan nasibku!”

“Ha! Apa kau punya nasib? Aku kira kau terlahir miskin!”

“Tutup mulutmu! Aku adalah Thomas Stephen, berasal dari keluarga kaya dan terpandang, tapi pers*tan dengan keluarga dan teman-temanku yang meninggalkanku seperti ini!”

“Be.. be.. benarkah Kau bernama Thomas? A..A.. Apa yang terjadi pada dirimu?”

“Aku terlahir dari keluarga kaya dan terpandang, semua orang ingin menjadi temanku, tapi mereka semua sampah! Disaat kesusahan, mereka berpura-pura tak mengenaliku!”

“Apa itu benar? Bagaimana bisa mereka meninggalkanmu?”

“Iya!! Itu benar!! Mereka meninggalkanku setelah Aku terbukti menggunakan uang perusahaan untuk bersenang-senang! Dasar teman tak dapat diuntung! Padahal Mereka sama sepertiku! Tapi Aku yang dijebloskan ke penjara! Setelah Aku keluar dari penjara, Mereka melihat Aku seakan orang yang tak berguna! Pers*tan dengan Mereka!”

“La..la..lalu bagaimana dengan keluargamu?”

“Aaah.. Mereka sama saja, keluargaku sudah muak dengan kelakuanku, Mereka telah menganggapku tak ada bedanya dengan lintah, yang hanya menghamburkan kekayaan keluaraga!”

“Tapi, keluargamu sangat kaya, memiliki banyak uang di bank, dan investasi diberbagai perusahaan,”

“Hai! Bagaimana Kau bisa tahu? Ah sudahlah, Pergi! Cepat pergi Kau! Aku tak ingin mengingat masa lalu!”

Seketika itu Anak muda tersebut berlari sekencangnya, hanya satu tempat yang Ia tuju, yaitu bukit. Setelah sesampainya di sana, Ia hanya menumpahkan rasa penyesalan di bawah Pohon yang terbesar di bukit itu.

“Tolong, tolong bawa Aku kembali! Aku tak ingin di sini, Aku tak ingin berakhir mengenaskan,” Ucapnya dengan rasa menyesal.

“Aku tahu apa maksudmu, Aku takkan melakukan perbuatan buruk lagi, takkan membolos sekolah, takkan mencontek teman, dan patuh terhadap orang tua, takkan merepotkan orang tuaku. Pohon, Aku mohon kembalikan Aku!”


Hanya tangisan yang bisa Ia lakukan. Benar! Thomas Stephen muda hanya bisa menangis sejadi-jadinya.

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

6 komentar:

  1. wow. ini semacam mesin waktu ya?
    keren mbak.

    BalasHapus
  2. hehehehehehe, untungnya dia udah tau nasibnya bakal gitu karena keteledorannya :D, jadi bisa berubah :D

    BalasHapus
  3. ngomong sama diri sendiri???
    waaaaa~ kerennn

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, iya ketemu dengan masa depannya :-D
      makasih sudah berkunjung

      Hapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b