Rentenir

20
Sabtu, Maret 02, 2013
“Sitiiiiiii.. kemana Kau pergi?” teriak Si pria. “cepat bayar hutangmu seratus juta, atau Aku bakar rumahmu!” ancam Si pria itu.

Kaki Siti gemetar karena mendengar ancaman dari Si pria dan tak kuasa menahan gigitan nyamuk dan semut yang menikmati kulitnya sejak tadi. Siti tak berani menampakan diri untuk menemui Si pria tersebut, Siti sudah tak punya apa-apa untuk membayar hutangnya kepada Si pria.

BRAAAAK!! Suara kursi yang memang sudah reyot dengan mudahnya dilempar oleh pengawal Si pria. “Sitiiiii.. Aku tidak main-main dengan omonganku, cepat keluar! Atau Aku hancurkan rumahmu!” teriak Si pria itu.

Siti mulai merinding mendengarnya, tapi apa daya siti sudah tak sanggup untuk menebus semua untuk membayar hutang yang melilitnya. Siti tetap bersembunyi dibelakang kandang ayam, meskipun kandang itu telah lama tak dipakai, tetapi bau khas masih menyelimutinya. Siti menahan rasa mual karena berbagai aroma dari tai ayam, kencing, dan aroma busuk yang lainnya mulai menusuk. Tidak dengan bayi Siti yang digendongnya, Bayi Siti mulai merengek membuat Siti gugup, dengan sigap Siti membekap mulut Bayinya dengan tangannya agar tak terdengar oleh segerombolan Pria yang mulai mengacak rumah Siti.

“Bos, apa yang bisa dibawa pulang? Rumah reyot ini tak punya apa-apa? Bahkan, ini bukan rumah tapi gubuk, sudahlah Bos, Kita pulang saja,” ucap pengawal pertama Si Pria. “hust! Apa kalian mendengar tangisang bayi?” kata Si pria mencoba mendengar lebih jelas. “Coba kalian periksa belakang rumah ini!” perintah Si pria.

Siti mulai ketakutan dan melihat beberapa pengawal Si pria mulai mengawasi belakang rumah. Meskipun hanya lampu bohlam yang remang, Siti dapat melihat dengan seksama apa yang dilakukan pengawal Si pria. Siti makin kencang membekap mulut bayinya agar tak terdengar oleh pengawal maupun Si pria.

“Tidak ada apa-apa Bos!” jelas pengawal Kedua.

“An**ng, tidak ada yang bisa Kita ambil dari rumah reyot ini!” umpat Si pria.

“Hei Siti! Aku akan terus mencarimu! Kau tidak bisa bersembunyi dariku!” ancam Si pria dan mereka mulai meninggalkan rumah Siti.

Siti lega ketika Si pria dan pengawalnya benar-benar pergi dari rumahnya. Tetapi wajah Siti mulai muram ketika Bayi yang digendongnya tak menangis lagi dan terbujur kaku. Bayi Siti tak bernapas lagi.

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

20 komentar:

  1. Balasan
    1. huum, jng utang ke rentenir ya mak :-(

      Hapus
  2. hiks akhir yg tragissss :(((

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. kan klo utang pada rentenir, utangnya berlipat ganda :-D

      Hapus
  4. Waduh, hutang Siti kok banyak amat ya. Terjerat..terjerat...dan sad ending yo nduk.
    Apik cerpennya
    maju terus
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi,, ya begitulah klo hutang dengan rentenir
      makasih sudah mampir pak dhe :-)

      Hapus
  5. Kasihan sekali ya Siti....

    BalasHapus
  6. ide ceritanya bagus mba, endingnya tragis.
    yuk main ke rumah fiksi saya juga.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaaah senengnya di kunjungi mbak alaika :-))
      makasih udah berkunjung..

      Hapus
  7. haduh, sitiiiii.. utang apa kamu sampe 100 juta? bayarannya nyawa bayimu jadinya... kasihan.... bayi tak berdosa yang menanggungnya :(

    BalasHapus
  8. minjem duitnya sampe seratus juta? Rumahnya reyot? keren! salam kenal ya.

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b