Lampu Bohlam #11 : Curhatan Seorang Ibu

7
Rabu, Mei 15, 2013
Nak, Ibumu ini sudah tua, Ibu ingin bersamamu..

Ibu bukan bermaksud untuk jadi beban, tapi Ibu hanya ingin ditemani olehmu, anak kandungku.

Nak, jangan kirim Ibu ke panti itu, meskipun banyak teman sejawat di sana, tapi Ibu masih memilikimu.

Nak, Ibu tak menginginkan hartamu, Ibu hanya ingin segelas air putih pemberian darimu.

Nak, Ibu tak ingin baju baru, Ibu hanya ingin belaian tanganmu yang bersedia mengusap punggung Ibu yang sudah renta.

Nak, ingin sekali tangisan Ibu ini hanya untuk menangisi kebahagiaanmu, bukan tangisan karena pertengkaran kita.

Nak, Ibu sudah tidak sanggup menghitung berapa harta Ibu yang sudah Ibu keluarkan hingga kamu dewasa, tapi mengapa sekarang menyiapkan nasi untuk Ibu, kamu begitu mengeluh.

Nak, Ibumu ini sakit, Ibumu berjalan sendirian ke rumah sakit tanpa didampingimu.

Nak, Ibu hanya ingin ditemani..







NB : Capek dari Surabaya, pulang naek angkot, eh ada seorang Ibu yang tak lagi muda, kira-kira umurnya 50an, bisa disebut Nenek. Beliau pulang dari rumah sakit umum sidoarjo karena sakit paru-paru (kira-kira begitu). Dengan berlinang air mata, Beliau curhat tentang anaknya yang terlalu doyan harta, padahal semua warisan sudah beliau berikan, tapi ternyata perhiasan beliau dicuri oleh anaknya sendiri. Masih banyak yang Beliau ceritakan. Amit-amit ya anak yang seperti itu. Sepertinya ini cocok untuk Prompt #11 lampu bohlam.

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

7 komentar:

  1. Kasihan sekali ya si ibu ini padahal apapun pasti diberikan untuk anaknya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak, sampai nangis beliau kalo cerita :(

      Hapus
  2. dunia ini memang aneh ya mbak, ada yg ibunya baik tapi anaknya durhaka dan sebaliknya ada yang anaknya shaleh namun ibunya ga pengertian, hmmmmmmmmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebagai bahan koreksi aja mbak :)

      Hapus
  3. ;-( gak sanggup bacanya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. lah jangan nangis mas,, *puk puk*

      Hapus
  4. sedih baca tulisan ini. membayangkan gimana nanti kita tua. semoga anak-anak kita tetap mencintai kita dan perlakukan kita dengan baik ya...

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b