[Senandung Cinta] Jodoh Kecilku

24
Selasa, Juni 04, 2013
Hari ini, kedua kalinya kau menginjakkan kaki di Surabaya. Seperti biasa, Surabaya masih saja akrab dengan suasana bising dan panas, membuatku gerah, begitu juga hatiku. Tujuanku ke Surabaya untuk mengikuti proses perjodohan yang telah disiapkan oleh kedua orangtuaku. Aku heran, mengapa pihak wanita yang harus datang ke Surabaya untuk menemui pihak laki-laki? Aku pernah bertanya kepada Ibu, dan yang aku dapat hanya jawaban, “Mereka itu sudah sepuh nduk, makanya kita yang ke Surabaya. Toh, nanti acara pernikahan tetap di rumah kita nduk, di Jogja.” 

“Pak, Buk, Lastri, sudah nunggu lama to?” sapa Bapak tua yang ramah. Sepertinya Bapak itu adalah supir yang menjemput keluargaku dari stasiun Gubeng menuju rumah pihak laki-laki. “Ngampunten nggeh, jalanan macet ,” jelas Pak supir itu, dan dengan sigap membawa barang bawaan kami. Mobil sedan berwarna biru siap mengantar kami. Di dalam mobil, Bapak, Ibu dan Pak supir larut akan pembicaraan yang mebuatku bosan, aku marah dengan perjodohan ini, sudah berkali-kali aku menolak perjodohan, tetapi orangtuaku tetap saja memaksa. “Duh, Mbak Lastri ayu tenan, pangling aku,” canda Pak supir berusaha akrab denganku, aku hanya tersenyum simpul. “Mbak Lastri masih inget ndak, dulu pertama kali ke Surabaya, Setiap hari minta dianter muter-muter Surabaya? Duh sekarang, sudah calon manten yo Mbak,” ucap Pak supir yang sekali lagi berusaha akrab denganku, aku hanya membalasnya dengan senyum simpul. Ah, iya. Aku baru ingat semasa SD, aku pernah berlibur ke Surabaya untuk menemui teman lama Bapak, Om Sakula. Om Sakula mempunyai anak bernama Bhirawa. Ah, apakah Bhirawa yang akan dijodohkan denganku?. 

Mobil sedan berwarna biru berhenti di depan rumah yang cukup megah, rumah khas Jawa, dikelilingi pohon palem, aku mengenal rumah ini sebelumnya. Pak supir mempersilahkan kami untuk memasuki ruang utama. Ternyata memang benar, Om Sakula dan Tante Sri menyambut kami dengan hangat, mempersilahkan kami untuk duduk santai di kursi jati nan kokoh. “Sudah lama ya nggak ketemu Lastri,” kata Om Sakula menanyakan kabarku, aku hanya tersenyum simpul. Tetapi, detak jantungku berpacu cepat ketika melihat sesosok pria tinggi dan tegap. Dia berjalan mendekati kami, senyum ramah menghiasi wajahnya yang tampan. Dia sengaja duduk di sebelahku. “Nah, Lastri, ini Bhirawa, calon suamimu. Maaf jika Ibu sama Bapak ndak bilang siapa calon suamimu, ini semua karena ide Bhirawa,” jelas Ibu singkat. Aku tak percaya dengan penjelasan Ibu, Bhirawa kemudian memegang tanganku dan berkata, “Lastri, apakah kamu masih menyimpan surat cinta yang dulu aku berikan, sebelum kamu pergi meninggalkan Surabaya? Aku menepati janji itu Lastri. Janji menjadi lelaki hebat kemudian menikahimu.” Mendengar penjelasan Bhirawa membuatku tak percaya, seluruh tubuhku lemas. “Nduk, Bhirawa yang dulu, sudah berubah menjadi orang hebat, sekarang jangan hanya manggil Bhirawa, tetapi harus dengan sebutan Kapten Bhirawa,” Bapak sedikit membuat suasana tidak tegang, aku tersenyum lebar dan mengangguk, pertanda mengiyakan perjodohan ini.




About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

24 komentar:

  1. wahaha, pas bgt sm pak dhe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. loh iya ta.. hehehehe..
      sekelebat idenya muncul kayak gini :D

      Hapus
  2. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Flash Fiction Senandung Cinta.

    Ikuti juga Kontes Unggulan Blog Review Saling Berhadapan di BlogCamp (http://abdulcholik.com)

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  3. Lho, koq banting stir ke Jogja, Mba. Aktornya jadi Kapten Birawa lagi. Hihihihih

    Sukses ngontesnya, ya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. lah,, kapten bhirawa itu ganteng loh.. :D
      makasih ya sudah berkunjung

      Hapus
  4. Wihhhh happy andingg , sip margosip

    BalasHapus
    Balasan
    1. ihk mak ku niy terlalu memuji.. makasih mak :D

      Hapus
  5. kalo dijodohkan sm orang yg disukai emang asyik ya hihihi

    BalasHapus
  6. Memangnya Lastri masih menyimpan surat cinta itu?.

    terus mereka menikah dong, huhuuuuu asik.

    Aku mau jadi kembang mayangnya. =))

    BalasHapus
  7. setuju sama mbak orin. peh, beruntungnya dikaw lastri :D

    BalasHapus
  8. Bagus ceritanya.Harus banyak belajar nulis ni aku.
    aku ga bisa ni follow blog kamu.follow blog aku dunk nanti aku follow back.thank you

    BalasHapus
  9. (h) keren mbak fFnya.. semoga lancar dengan si Kapten.. hehehe...
    Salam Blogger,
    Senandung Cinta Bidadari Kecil

    BalasHapus
  10. ini sih jawabannya mau banget ya atas perjodohannya :)

    BalasHapus
  11. Senengnya...haduh...senengnya...berbunga-bunga daaah.

    Salam
    Astin

    BalasHapus
  12. mengangguk malu-malu, sambil plintir ujung jilbab. qiqiiqi

    BalasHapus
  13. aduuuh kalau ganteng (hati dan fisik)nya, saya juga mau dijodohin :p

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b