Balada Bakso

0
Jumat, Juli 26, 2013
Sebenarnya ini merupakan cerita mini yang ternyata nggak lolos di plot poin. Daripada nganggur di folder publish aja di blog fiksi. Biar rajin update gitu. Enjoy ya baksonya..


*****





“Bakso lagi nih?” ucapku dengan hela napas.


“Nggak lah Sayang, kali ini aku tambah kerupuk udang lima ribu, dijamin kenyang,” Devon tampak gembira dengan kencan kita kali ini.


Aku pikir Devon adalah lelaki sempurna ternyata tidak, karena hanya mukanya yang tampan, tapi dompetnya miris sekali, setiap kencan hanya bakso yang mampu dibeli, aku bosan. Sudah setahun ini bakso merupakan menu wajib saat kita kencan, andai saja aku bisa menendangnya ke Pulau tak berpenghuni agar aku mencari lelaki baru. Devon selalu ingin mencoba bunuh diri dengan mencoba mengiris nadinya dengan pisau, itu yang membuatku tak dapat putus dengannya. Bagaimana tidak, jika cinta ibarat kabel dan Devon sudah gagal memberikan setrum kepada kabel sehinggu tidak ada lagi percikan cinta dan hanya bosan yang aku dapatkan, jenuh melihat bakso dan jenuh dengan sikapnya yang selalu memaksa aku dan jika tidak menuruti kemauannya, akhirnya pisau yang berbicara. Ingin sekali aku menendangnya.


Aku terkekeh dengan lamunanku membuat Devon heran, “Ada yang lucu?” Tanya Devon.


“Eh, iya.. Sayang lucu,” jawabku dengan senyum simpul.


“Yeee.. emangnya aku pelawak?” Devon berusaha mencubit, tapi aku mengelak, karena aku tahu cubitan Devon membuat kulitku memar dan kemudian menghitam.


Cinta ini bagai cinta strawberry, jika dilihat memang menarik, tapi jika dirasakan, rasanya sungguh masam. Rasa masam dari strawberry ini membuat cintaku lama kelamaan menjadi berkarat, karena Devon hanya memberi rasa masam dalam hubungan cinta ini.


“Sayang sudah selesai makannya? Besok ke sini lagi ya? Kan Sayang masih libur puasanya, jadi aku bisa menemani Sayang makan bakso lagi,” terang Devon yang tidak berpuasa semenjak hari pertama dengan alasan ingin menemani aku.


“Besok aku sudah mulai puasa,” aku cepat-cepat menjawab karena aku sudah muak dengan melihat bakso setiap kita kencan.


“Oh.. gitu ya, sayang sekali. Tapi untung deh, uang di dompet sudah menipis. Bakso ini kamu yang bayar ya Sayang,” manja Devon dengan tanpa rasa bersalah.


Astagaaaaaa.. aku benar-benar ingin menendangnya.

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

0 komentar:

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b