Pak Tua yang Hampa

10
Rabu, September 18, 2013
credit


Pak Tua serius mengamati koran pagi yang sudah menguning. Ingin aku mendekatinya, tapi kesibukanku mengurungkan niat untuk mencari tahu apa yang sedang Beliau baca , apa istimewanya koran itu hingga setiap pagi aku melihatnya selalu serius membaca, mungkin membaca berkali-kali di halaman yang sama. 

Aneh, sore hari ini tak seperti biasanya, Pak Tua masih setia dengan korannya. Padahal hanya pagi hari Beliau setia membaca koran di tempat ini, gedung tua yang mungkin lebih tua dari umurnya. Aku mencoba mendekatinya. 

“Permisi Pak,” sapaku lembut. 

Tampaknya Pak Tua tak menyadari kehadiranku. Aku tak menyangka, ketika aku berusaha lebih dekat, mata Pak Tua itu sudah sembab, entah sudah berapa air mata yang telah Beliau buang. 

“Pak.” Aku menggoyang tubuh rentanya. 

“Lihat dia, begitu cantik.” 

Aku melihat ke arah seberang, terdapat salon kecantikan yang tampaknya juga sudah tua. Tidak terlalu ramai. 

“Dia itu wanita paling cantik yang pernah saya miliki, tapi..” 

Pak Tua tak sanggup meneruskan kata-katnya lagi, air mata mulai menggenangi pipinya yang termakan usia. 

“Aku bodoh! Meninggalkan wanita yang menyempurnakan hidupku.” Tangannya bergetar memegang koran yang menguning itu. 

Aku melihat halaman koran yang tak pernah Beliau balik. Ada berita dengan foto yang terpampang jelas sepasang suami istri yang berjaya mengembangkan salon kecantikan pada tahun 1980. Tampak serasi. 

“Saya bodoh, meninggalkan wanita cantik hanya untuk mencari nikmat dunia.” 

Aku terus memandangi gedung seberang, tampak seorang wanita cantik meskipun tak dapat disebut sebagai perawan, memandang ke arah kami. Tak bergeming memandang kami, meskipun banyak orang yang hilir mudik mengangkut semua barang di tempat salon tanpa tersisa. 

Pak Tua tetap setia dalam kehampaan.


About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

10 komentar:

  1. Masih belum mudeng, ada apa sebenarnya dgn si bapak tua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah napa ini :D
      menunggu istrinya itu di gedung seberang :D

      Hapus
  2. bagian terakhir cerita justru bikin bingung. perempuan cantik yang tak bisa disebut perawan? apa hubungannya dengan si bapak tua?

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu maksudnya istrinya.. di koran itu, masa berjayanya pak tua dan istrinya, mereka bercerai krn kesalahan pak tua. makanya pak tua itu menunggu istrinya

      Hapus
  3. Jangan keras goyang-goyang tubuhnya Mbk.

    Nanti malah si Bapak ambruk lagi.

    Heheheee..

    BalasHapus
  4. ceritanya nih penyesalan si bapak tua yaa..

    BalasHapus
  5. penyesalan mungkin beliau dulu tergoda rumput tetangga yang lebih hijau :D

    BalasHapus
  6. Penyesalan memang selalu datang terlambat ya..

    BalasHapus
  7. Itu kenapa orang hilir mudik ngangkutin barang dari salon? Salonnya disita bank, ea? :-)

    BalasHapus
  8. yaya... agak-agak ngerti meski tidak jelas benar :D

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b