Tertukar

3
Senin, September 16, 2013
Melihatnya saja membuatku merinding, pedekatan yang dia lancarkan bagaikan strateji perang gerilya tanpa ampun, haruskah seperti itu? Mengenaskan. Kali ini perhatian yang seperti apa untuk mengambil hatiku? Menulis surat cinta seperti dua hari yang lalu dan akhirnya membuatku takut akan pergi ke sekolah esok hari. Apakah terus berkeliaran di depan kelasku hanya ingin melihat kesibukanku saat di dalam kelas? Aneh. Bukan rasa simpati yang akan kuberikan tetapi rasa amarah dan ingin terus lari untuk menghindar darinya. Apakah belum cukup wajah masam yang selalu kuberikan untuknya saat dia berani melirikku? Malah senyum-senyum kecil ketika aku melintas di depannya. Ingin aku labrak dia, ingin aku maki dia, aku lelah dengan perhatian berlebihan dia. Cukup!

“Nggak dimakan niy gorengannya?” sontak Maya yang membuyarkan lamunanku tentang strateji membumi hanguskan lelaki aneh.

“Uhmm..” aku enggan menjawabnya. Pastilah aku menolak goreng ini, meskipun ada bakwan goreng kesukaanku. Mana bisa aku menerima pemberian dari lelaki aneh itu. Dengan cepatnya, tangan dan mulut Maya bersinerji untuk memakan semua gorengan yang ada di hadapanku. Hmmm.

Bersyukur sih karena setiap hari aku mendapat kiriman setiap jam istirahat lelaki aneh itu menyediakan cemilan atau nasi bungkus untuk aku makan. Kapan lelaki aneh itu berhenti memeprlakukanku seperti itu? Sudah jelas aku selalu menolaknya, tetapi Maya selalu menerima pemberian itu dengan alasan aku akan memakannya nanti. Padahal, aku tak pernah mau menyentuh apapun yang berasal dari lelaki aneh itu.

Aku melihat Maya menikmati gorengan itu, dan tanpa sadar perutku melakukan tanda alam dan membuat Maya heran, “Lapar ya?” pertanyaan Maya membuat runtuh semua gengsiku apalagi dengan sikap manis Maya yang memberiku satu pisang goreng yang ternyata menampakkan seperti cemilan terlezat yang sayang untuk dibiarkan. Dengan ragu-ragu aku mengambil pisang goreng yang hangat dengan aroma keju membuat aku ingin merasakan sensasi kriuk hingga ujung jariku. Aku kalah hanya karena pisang goreng, ah terpaksa! Semua ini karena situasi kantin yang penuh sesak penuh dengan perut-perut beringas yang rela berdesakan demi cilok, gorengan, es, nasi bungkus dan berbagai jenis pemuas lapar. Sementara aku yang tak kuat mental karena menghadapi persaingan ketat memperebutkan makanan di kantin, Hopeless.

“Kenapa sih Din, kamu nggak terima aja si Ilham?” Maya berkali-kali menanyakan pertanyaan yang sama setiap hari. Aku curiga mungkin Maya merupakan tim sukses Ilham sehingga Maya berharap agar aku jadian dengan Ilham dan akan mendapatkan imbalan sesuatu yang mengiurkan dari Ilham, pikiranku seperti itu.

“Kan kamu tahu May, Ilham itu nggak ada kriteria keren sama sekali.” Sekian jawabku, singkat dan tak akan pernah aku ubah meskipun berjuta-juta kali Maya menanyakan hal yang sama, hatiku tak akan goyah.

“Kenapa mikir fisik sih? Coba deh lihat pengorbanan Ilham, dia mengabulkan setiap permintaan kamu, apa itu nggak cukup Din?” selidik Maya. Aku meruncingkan mata dan tak percaya apa yang diucapkan Maya, ucapan Maya dari hari ke hari semakin menunjukkan jika Ilham pantas untukku, BIG NO!!

“Eh, kenapa sih kamu May? Kamu suka kalau aku jadian dengan lelaki yang nggak keren itu? Nggak banget deh May!” aku mulai ngambek dan meninggalkan Maya yang masih setia duduk di depan lapangan basket.

“Din, Dinaaaaa!!!” Maya berusaha mengejarku. Bel berbunyi, pertanda usai sudah jam istirahat. Maya menghentikan langkahnya dan kembali ke kelasnya, untung kelasku dan kelas Maya berbeda. Aku kelas VII B, sedangkan Maya kelas VII E. Membuatku legah tak diusik Maya beberapa waktu.

Eh, mengapa kelasku masih banyak teman-teman yang berkeliaran di luar kelas padahal sekarang kan waktunya pelajaran Biologi, aku bertanya kepada ketua kelas, “kenapa masih ada yang di luar? Nggak takut Bu Yosi marah?” mendapat pertanyaan dariku, ketua kelas malah terkekeh dan menjawab, “Bu Yosi nggak ngajar hari ini, bebas deh.” Tersenyum lebar seakan keluar dari penjajahan.

"Suiiiittt.. suiiiittt.. Dina dicari tuh sama pangeran Ilham.” Semua teman sekelas yang berada diluar riuh dengan kehadiran Ilham. Aku menoleh ke arah belakang dan astaga ternyata dengan senyum yang mengembang bak donat yang terkena minyak panas, senyuman Ilham membuatku menjadi bualan teman-teman. Secepatnya aku berjalan kea rah kamar mandi, tapi sialnya langkahku dapat dijangkau oleh Ilham.

“Mau kemana Dina?” Tanya Ilham yang sok pengertian. Kenapa juga aku harus ke kamar mandi, padahal kan bisa sembunyi di dalam kelas. Kalau begini jadinya, ini menjadi kesempatan Ilham untuk mendekati aku dan mengajak ngobrol. Aku enggan menjawab dan langsung melesat ke kamar mandi yang jaraknya tinggal beberapa langkah lagi.

Huft, mengapa ilham seperti hantu? kemana-kemana selalu bertemu dengannya. Ah, bodoh sekali, kelas Ilham berada tepat di sebelah kelasku yaitu kelas VII C. Mengapa mendadak menjadi grogi seperti ini? Aku menenangkan diriku di kamar mandi. Aku merapihkan rok biruku dan sedikit jengkel ketika melihat seragam putihku ada noda saos sambal yang asal-usulnya tak tahu darimana. Melihat kaca di kamar mandi membuatku berpikir, apa mungkin aku anak kelas VII di SMP yang terkemuka pantas jadian dengan Ilham yang menurutku nggak termasuk kriteria keren, aku ingin memiliki pacar yaitu kakak kelas yang memiliki pesona tersendiri, sementara Ilham apa pesonanya dia? Celana saja kelihatan ikat pinging hitam dan terlihat culun, kalau kakak kelas sih beda seragam sedikit keluar, kancing seragam paling atas dibuka, terlihat jantan. Itu masih dilihat dalam hal berpakaian, Ilham saja sudah tidak termasuk kategori keren apalgi dilihat dari sudut lain, nggak banget.

Aku tengok kanan kiri melihat situasi di luar kamar mandi apakah cukup aman untuk ke luar dari tempat persembunyianku atau tidak. Sepertinya aman. Aku lalui hari ini dengan penuh was-was. Selesai sekolah pun harus secepatnya menghindar dari kerumunan agar gerakanku di tempat parkir sepeda tidak terlacak oleh Ilham. Dan akhirnya aman.

Sudah satu bulan Ilham mendekatiku dan tak ada tanda menyerah darinya, bahkan semakin gencar tak hanya gorengan sebagai tanda cintanya tetapi sekarang meningkatkan standar perhatiannya, kali ini Ilham membawakan satu buah kaset group band “Cokelat” yang sedang hits saat ini, aku nggak nyangka mengapa Ilham bisa jika sedang mengincar kaset group band “Cokelat” harganya yang cukup mahal untuk kantung anak SMP, sedangkan jika aku meminta uang ke orangtua untuk membeli sebuah kaset, pasti mendapatkan ceramah yang melelahkan telinga, jadi mau nggak mau harus rela menabung demi kaset yang aku impikan itu tetapi bagaimana mungkin Ilham dalam sekejap bisa memenuhi apa yang aku inginkan? Ah, mungkin Maya ada dibalik semua ini, karena hanya dengan Maya aku curhat apapun itu. Dan sekarang Maya bagaikan “penyambung” antara Ilham dan aku. Duh!.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan cinta Ilham, seperti ABG lainnya yang merasakan cinta “monyet” tetapi satu bulan telah berlalu dan Ilham masih mengejarku, apakah itu belum dapat dikatakan keren?!! Dalam hal perjuangannya? Terjadi sebuah perpecahan hati sedang aku alami. Di sisi lain ingin menolak Ilham sejauh mungkin dan tak ingin menjadikannya seorang pacar dalam sejarah cintaku. Tetapi, di sisi lain aku ingin memberinya kesempatan untuk memasuki dunia cerita cintaku, ARRRGGGHHH!!! Aku mulai gusar dengan tidak kompaknya hati ini, aku biarkan saja Ilham.

Seminggu setelah kejutan kaset itu, yang akhirnya aku menerimanya. Terjadi keanehan dalam diri Ilham. Bagaimana tidak, sekarang Ilham biasa saja kepada ku meskipun masih tersenyum sopan kepada ku. Apakah aku sudah tidak menarik lagi untuk dikejar? Apakah Ilham memiliki target lain? Atau memang Ilham sudah menyerah dan tak lagi berharap kepadaku?

“Aneh nggak sih kalau Ilham sekarang ini berbeda?” tanyaku kepada Maya.

“Ciee… sekarang yang perhatian.” Goda Maya.

“Apaan sih, kan tanya doang,” ucapku dengan menjulurkan lidahku ke arah Maya. Siang ini tidak seperti biasanya, sekarang aku yang menunggu perhatian dari Ilham, entah itu berupa gorengan, es lilin, bakso atau apapun itu.

“Yuk ah ke kantin.” Ajakku.

“Lah, kan emang dari tadi aku ngajak ke kantin, kamu sih nunggu Ilham dari tadi.” Goda Maya.
Ih, semakin malas aku mendengar becandaan Maya. Setidaknya setelah sampai di kantin sekolah, aku terpuaskan oleh dua es lilin rasa sirsak yang sekarang memenuhi kerongkonganku, segar.

“Seandainya Ilham cinta cewek lain gimana?” pertanyaan Maya hampir membuatku menelan plastik es lilin. Tak kusangka ternyata pertanyaan yang sederhana itu membuatku sedikit gelisah, apa iya sekarang Ilham mengincar cewek lain.

“Ah, bodo amat!” ketusku.

“Yakin?” Tanya Maya meninginkan kesungguhanku.

“Kan kamu tahu sendiri May, Ilham nembak aku berkali-kali, tetap saja aku tolak.” Jawabku penuh perhatian. Maya tampak tersenyum seakan puas dengan jawabanku dan yakin aku tak pernah ingkar dengan apa yang telah aku katakan, aneh.

“Kalau kamu suka sama Ilham, nggak apa-apa May,” candaku dengan sedikit mencubit pipi Maya yang gembul karena terbalut kacamata.

“Ah, kok gitu sih May, tapi boleh juga.” Maya menjawabnya dengan tertawa senang.
Jika memang benar ada kedekatan antara Maya dan Ilham, mengapa hati ini tampak gelisah? Apakah aku tak rela jika perhatian Ilham sekarang berubah haluan ke Maya? Oh Tuhan, mengapa aku memiliki pikiran yang membuatku kalut? Hei! Hentikan berpikiran macam-macam! Apakah aku benar-benar mencintainya? Atau hanya sedih karena tak lagi menjadi pusat perhatian Ilham, entahlah.

Beberapa hari kemudian dengan melihat berbagai fakta jika memang Ilham sudah tak seperti dulu lagi, bahkan saat aku jalan melewatinya tak membuatnya memperhatikan atau sekedar mencuri pandang kepadaku. Ingin rasanya hari ini aku setelah pulang sekolah tak mengerjakan tugas apapun itu dan hanya terbaring di kasur seharian dengan ditemani lagu dari group band “Cokelat”, aku lelah.

Untung bel pulang sekolah tampak terasa cepat dibunyikan atau hanya perasaanku saja, aku tak peduli yang penting aku ingin cepat sampai rumah. Dengan terburu-buru lari ke kelas Maya, aku sempat terhenti ketika Ilham berdiri di depan kelas Maya. Tampak menunggu seseorang.

“Ngapain di sini?” tanyaku. Ternyata membuat Ilham tampak kaget dengan keberadaanku.

“Hmmm… nunggu Maya,’ ucapnya lirih dengan menyembunyikan wajahnya yang malu.

“Oh..” kataku singkat.

Akhirnya Maya keluar dari kelas dengan rambut yang digerai menampakkan keindahan gadis Indonesia dengan warna kulit yang sawo matang dihiasi kacamata, menenteng tas merahnya yang senada dengan tas yang aku pakai, jika kami berjalan beriringan, mungkin banyak yang mengira kami adalah saudara kembar , hanya kacamata sebagai pembeda kami.

“Hai, Ilham.. sudah nunggu lama ya? Ada apa?” Tanya Maya yang tampak tak kaget dengan kehadiran Ilham, mungkin sebelumnya Ilham sudah memberitahukan jika akan menemui Maya.

“Sini deh May,” Ilham menarik tangan Maya agar sedikit lebih jauh dari kelas Maya yang masih tampak ramai teman-teman yang berlalu lalang ingin segera menuju ke tempat parkir sepeda. Dan aku hanya bisa melihat mereka dari jauh meskipun suara mereka masih cukup terdengar, ada yang aneh di wajah Ilham yang tampak serius bertanya kepada Maya, persis saat bersamaku dulu.

Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut ilham, membuatku tampak semakin lemas, iya! Ilham sedang “nembak” Maya di depan kelas persis seperti apa yang dilakukannya dulu saat “nembak” aku. Anggukkan kecil dari Maya pertanda setuju. Aku lemas.


Mungkin jodoh itu sempat tertukar di tempat yang salah, perlu bersabar untuk menantinya.


About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

3 komentar:

  1. Tuhkan, wanita emang gitu kadang, gengsi, tapi takut kehilangan juga hehehe, mirip sama apa yang aku alamin...........

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah tuuuh jangan gengsi :D
      makasih ya sudha berkunjung..
      sama dong kita *tossss*

      Hapus
  2. hihi, cewek emang gitu ya? gengsian! :D

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b