[Dongeng] Asal Mula Peri Api

9
Kamis, Oktober 10, 2013
Sudah delapan bulan Bumi telah diselimuti oleh benda yang lembut, dingin dan berwarna putih, mereka menyebutnya salju, setiap saat turun ke Bumi membuat semuanya tampak dingin dan membeku. Seperti malam sebelumnya, Peri salju yaitu Peri Aira tampak senang ketika turun ke Bumi. Peri Aira terbang dan menari di antara salju yang turun. Gaun Peri Aira yang berwarna putih dan dikelilingi oleh butiran salju semakin tampak berkilauan ketika Peri Aira berputar-putar dengan gembira.

“Aku senang sekali ketika salju turun, aku bisa bermain sepuasnya,” Peri Aira terbang di atas Danau yang telah membeku, rambut Peri Aira tampak menari diterpa angin.

Peri Aira terus dan terus terbang melewati rumah, danau, pepohonan yang semua telah membeku diselimuti oleh salju. Peri Aira tertawa gembira, senang jika Bumi penuh dengan salju.

“Tak akan ada lagi musim semi, musim panas ataupun musim gugur, yang ada hanya musim salju, iya saljuuuuuu,” Peri Aira terbang semakin cepat.

Dan sampailah Peri Aira ke sebuah Negeri yang tampak gelap dan sunyi. Peri Aira tampak heran dengan Negeri yang tak sengaja ia datangi. Mengapa tampak begitu sunyi? Mengapa tak ada yang bergembira ketika turun salju? Semua pertanyaan di benak Peri Aira semakin memberondong. Peri Aira memutuskan untuk terbang lebih rendah dan melihat sekeliling Negeri yang tampak muram tersebut.

Terdengar suara tangisan dari salah satu rumah di Negeri tersebut. Peri Aira mencari asal suara tangisan yang tampak sedih itu. Berhentilah Peri Aira di depan rumah yang begitu gelap, tak tahu apa warna rumah itu, atap rumah yang dihiasi es, membuat suasana semakin dingin. Peri Aira melihat jendela rumah tersebut terbuka dan diterangi oleh cahaya lilin yang remang, Peri Aira terbang ke jendela itu mencoba melihat siapa yang menangis. Alangkah kagetnya Peri Aira melihat kamar yang di dalamnya terdapat seorang gadis kecil memakai baju dan tudung kepala berbulu, menangis di balik guling kecilnya. Peri Aira menghampirinya.

“Hai, mengapa kamu menangis,” ucapnya lirih.

Gadis kecil itu mengintip dari balik guling. Gadis kecil itu tampak terkejut dan ketakutan, mencoba menjauh dari Peri Aira.

“Sssstt.. tenanglah, aku Peri Aira, Peri salju. Jangan takut,” Peri Aira mencoba mendekati gadis kecil itu. Gadis kecil tersebut membuka lebar-lebar guling yang menutup seluruh wajahnya, mencoba menyentuh Peri Aira yang bertubuh mungil. Jari gadis kecil itu menyentuh rambut Peri Aira yang bergelombang, kemudian menyentuh tubuh Peri Aira yang mungil, tak disangka Peri Aira merasa geli ketika jari gadis itu menyentuh tubuhnya, Peri Aira tertawa. Gadis itu tersenyum dan berhenti menangis.

“Hai, mengapa kamu menangis,” Peri Aira berusaha menyudahi tertawanya karena geli.

Gadis kecil itu menunjuk keluar jendela. Peri Aira tahu apa maksudnya.

“Kamu tidak suka dengan salju?” Tanya Peri Aira.

Gadis itu menggeleng.

“Mengapa? Bukankah salju itu indah?” Tanya Peri Aira yang sedikit heran.

“Aku tidak suka salju.”

“Lalu?”

“Ayah tidak dapat bekerja, setiap pagi Ayah mengambil buah di belakang rumah lalu dijual ke Pasar, biasanya aku mendapat baju baru ketika Ayah pulang dari Pasar, sekarang tidak lagi,” gadis itu tertunduk menahan bulir-bulir air mata yang jatuh.

“Aku tidak dapat bermain dengan teman-teman, semuanya beku dan dingin. Teman-teman hanya ada di rumah, tidak mau bermain lagi.” Kata gadis kecil itu sambil mengosok-gosok tangan kecilnya.

Peri Aira tampak terdiam, tak mampu berkata apa-apa, sekarang tubuhnya yang membeku ketika mendengar apa yang telah diucapkan oleh gadis kecil itu. Bagaimana mungkin perbuatannya yang memperpanjang musim salju menjadi delapan bulan, menyebabkan gadis kecil tampak sedih. Apa mungkin semua teman gadis kecil itu juga sedih dengan turunnya salju?

Peri Aira menyesal dengan perbuatannya, bulir salju kecil jatuh dari matanya, Peri Aira menangis.

“Apakah kamu mau membantuku?” Peri Aira mengulurkan tangannya.

Gadis kecil itu tampak heran tak tak menjawab pertanyaan dari Peri Aira.

“Aku akan menghentikan salju ini, tapi aku ingin kamu dan semua temanmu membantuku, ayo cepat kumpulkan semua temanmu, aku tunggu kalian di luar,” Peri Aira terbang keluar melalui jendela.

Cepat-cepat gadis kecil itu meninggalkan tempat tidur dan segera memanggil semua temannya.

Dua puluh anak telah berkumpul di luar rumah, mereka membentuk lingkaran kecil dan di tengah-tengah mereka terdapat Peri Aira. Peri Aira melihat sekeliling, tampak wajah anak-anak yang polos, Peri Aira ingin membuatnya semua anak di Negeri ini tampak tersenyum.

“Baiklah, sekarang mulai menggosok-gosok tangan kalian hingga hangat, kemudian arahkan telapak kalian ke tanganku. Jika perlu, lakukan berkali-kali.” Perintah Peri Aira yang bersungguh-sungguh.

Dua puluh anak termasuk gadis kecil itu mulai menggosok tangan mereka. Satu kali, lima kali tidak ada perubahan di tubuh Peri Aira. Semua anak tidak pantang menyerah, mereka mencobanya berkali-kali. Ajaib! Dari tangan Peri Aira keluar api kecil, namun tak membakar tangan Peri Aira, dan juga rambut Peri Aira berubah menjadi warna merah, warna api. Api itu semakin membesar dan sekarang tubuh Peri Aira dikelilingi oleh api!

Peri Aira tampak tersenyum dengan keberhasilannya. Peri Aira mulai memutar tubuhnya sehingga membentuk bola api, kemudian tiba-tiba peri Aira berhenti.

“Hai Gadis kecil, apa nama Negerimu ini?” Peri Aira sedikit berteriak.

“INDONESIA!!” ucap gadis kecil itu dengan lantang.

“Mulai sekarang dan seterusnya, akan aku menjaga Negeri Indonesia agar tidak turun salju! Percayalah padaku!!” Peri Aira melanjutkan terbang dengan memutar tubuhnya. Mengelilingi seluruh Negeri Indonesia. Lambat laun, semua salju yang menutupi Negeri Indonesia mulai mencair. Semua anak tampak sorak bergembira. Mulai saat itu Negeri Indonesia tak pernah turun salju, karena di atas sana, di langit Negeri Indonesia ada Peri Aira yang menjaga Negeri Indonesia tetap hangat. Peri Aira bukan lagi peri salju, melainkan Peri Aira si peri Api.




About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

9 komentar:

  1. Wahhhhh kenapa namanya Indonesia ya ?? edisi pengen ganti nama :P

    BalasHapus
  2. mbok ya Amrik hihiii... Bagus mak ceritanya. Pendongeng yang keren :)

    BalasHapus
  3. he he he ini yang menyebabkan kita gak pernah menikmati lembutnya salju di Indonesia! Sukses ya dengan GA nya

    BalasHapus
  4. oh..jad begitu ceritanya..
    thanks ya mbak

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b