Jack si Badut

6
Selasa, Oktober 29, 2013
“Oh, God! Ini pesta Halloween sayang, bukan pesta lajang!” Teriak Maria.

Tak tahan melihat aksi Katrina dengan kostum yang hanya mengandalkan lingerie berwarna merah layaknya Playmate. Berkat kostumnya, mungkin Katrina akan menjadi Playmate of the month dan menjadi salah satu girlfriend Hugh Hefner. Maria selalu kesal dengan Katrina yang selalu berusaha menjadi pusat jagat raya. Sudah sebulan lebih Maria mengorbankan waktunya hanya untuk membuat kostum yang menarik perhatian saat pesta Halloween yang diadakan di kampus setiap tahunnya. Kostum yang dipakai Maria adalah Alice in wonderland yang menampilkan sisi menggemaskan dari Maria. Sedangkan dengan mudahnya Katrina mematahkan semua impian Maria. Hanya bermodal lingerie berwarna merah dan sedikit aksen bulu-bulu merah muda seolah Katrina merupakan “Cute Bunny” oh  tidak, mungkin lebih mirip “Bit*h Bunny”. Bermodal kaki jenjang dan wajah seperti Paris Hilton – hanya saja rambut Katrina berwarna merah -  menjadikan kostum yang ala kadarnya menjadi tampak sempurna.

“Na,na,na.. Hunny, lo kurang berimajinasi,” telunjuk Katrissa berayun-ayun tepat di hidung Maria, lalu meninggalkannya. Sesekali Katrina menggoyangkan pantatnya agar benar-benar tampak seperti kelinci yang menggemaskan.

 “Semoga bumi menelanku,” doa Maria bersungguh-sungguh. Maria menaruh harapan besar dengan adanya pesta Halloween tahun ini, karena memang Maria berhasil melewati masa kuliah tahun pertama dengan sempurna dan sudah waktunya di tahun kedua semasa kuliah, Maria harus memikirkan teman kencan yang sempurna, memikirkan bagaimana membuat pria di kampus bertekuk lutut di depan Maria. Dan sekarang melihat kostum Katrina, serasa tahun kedua di kampus akan menjadi tahun penuh dengan penyesalan.

Tuuuk.. tuuuk.. tuuuuuuk…

Suara yang sedikit mengganggu, tetapi Maria tahu siapa yang membuat suara berisik itu. Apa gunanya smartphone jika seseorang menemui teman, harus melempar kerikil kecil di kaca jendela di depan balkon, siapa lagi kalau bukan perbuatan Jack, teman setia Maria. Harus digaris bawahi jika mereka benar-benar berteman, karena Maria kesal jika banyak yang menyalah artikan kedekatan mereka. Maria tahu jika berdekatan dengan Jack akan membuat Maria lebih dekat dengan kelompak tidak populer di kampus. Untungnya Maria satu kamar dengan Katrina di pondok kampus – atau nama kerennya basecamp - Jadi, kata ‘tidak populer’ sedikit menjauh dari Maria.

“What a perfect…. “ Maria mengumpat di balkonnya, tidak percaya apa yang dia lihat.

“Mana kostum lo? Janjinya lo pakai kostum Sherlock holmes? Tapi? What? Lo becanda kan?” teriak Mari kepada Jack.

“Lucu kan?” kata Jack tersenyum simpul.

“What??? Lucu? Gila aja lo, masa harus kostum badut! Norak tau!” Maria tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Jack, dengan seenaknya merubah kostum tanpa pemberitahuan dan sekarang Maria harus berjalan beriringan dengan Jack si badut? Hal memalukan apa lagi yang akan Maria dapat? Maria sudah memiliki bayangan yang sempurna jika Jack menjadi Sherlock holmes, tampak gagah dan misterius. Maria tak akan malu jika ke pesta Halloween bersama Jack. Tetapi, sekarang Maria seakan mengutuk dirinya telah percaya kepada Jack yang akan membuat malam Halloween tampak sempurna.

“Buruan Maria, kita terlambat.” Jack menunjuk jam tangannya.

“Huh!!” Maria kembali ke kamar dengan kesal, ditutupnya jendela dengan keras sehingga menimbulkan suara kaca yang beradu cukup keras agar Jack tahu jika Maria kesal dengan perbuatannya. Maria mendatangi Jack yang telah menunggunya.

“Kita akan datang terlambat di pesta itu.” Tiba-tiba Maria merubah rencana.

“Eh? Kenapa?” Jack tampak bingung.

“Gara-gara kostum badut lo! Gue malu! Telat ke pesta sepuluh atau lima belas menit aja,” Maria tampak cemberut.

“Iya, masih jam sembilan, kita ke taman aja yuk?” Jack segera menggengam tangan Maria untuk menuju ke taman yang letaknya di tengah-tengah kampus.

Maria dan Jack berjalan perlahan-lahan menikmati suasana sunyi di taman kampus. Tak ada satu pun yang melewati taman kampus yang terbilang seperti lapangan golf dengan rumput nyaman sebagai pengganti kasur. Semua mahasiswa yang tinggal di basecamp akan membuat berbagai acara saat malam tiba di basecamp, terkadang mereka lupa jika ada sedikit padang savanna di kampus saat malam hari. Sesekali angin menari dengan air danau yang tenang menimbulkan kesan romantis. Tentu saja Maria tidak ingin menikmati romantisme dengan Jack.

“Di sini aja.” Maria duduk di atas permadani rumput, sesekali menepuk kakinya. Sementara Jack dengan perut badutnya yang buncit membuatnya tampak kesulitan untuk duduk.

“Lo kenapa sih nggak bilang gue kalau mau ganti kostum?” tanya Maria langsung tepat sasaran.

“Gue berubah pikiran juga setelah memakai kostum Sherlock Holmes. Gue kok nggak suka pakai kostum yang terkesan maskulin, gue lebih nyaman pakai kostum badut, ini aku pinjem dari pamanku loh, dia menyewakan kostum badut.” Bangga Jack.

“Tahu nggak apa yang menjadi kebanggaan badut?” tanya Jack. Maria hanya mengangakat bahunya, seolah tidak ingin tahu jawabannya.

“Yang menjadi kebanggaan dari seorang badut itu penontonya, jika penontonnya tertawa, maka badut akan merasa bangga. Jika penontonnya sedih, badut itu harus tetap membuat penontonnya tertawa. Makanya semua badut pasti memiliki senyum lebar kayak gini. Lihat, aku pakai dua lipstick merah loh buat gambar bibir ini.” Telunjuk Jack mengitari semua garis merah di wajahnya, bukan terkesan lucu, tapi terkesan seram.

“Tapi lo udah bikin gue malu. Lo tau kan, kostum apa yang dipakai Katrina? Gue muak, kalau gini mana ada yang mau kencan ma gue, kebanting rasanya kalau gue terus-terusan begini.” Jelas Maria tampak emosi.

“Hmmm… Katrina pasti cantik ya?”

“Jack… lo denger kan apa yang gue jelasin tadi, jangan-jangan lo masih berharap sama Katrina?” Maria mencondongkan mukanya ke arah Jack, tampak Jack sedang melamun.

“Ah sudahlah, percuma. Ayo kita ke pesta Halloween, gue masih mau bersenang-senang.” Maria berdiri dan mengibaskan rok polkadot berwarna merah. Jack kembali kesulitan karena perut badutnya yang buncit. Jack tergopoh-gopoh untuk meyusul Maria yang langkah kakiknya bisa dua kali lipat daripada Jack saat memakai kostum badut.

Gedung student center, tempat perhelatan akbar pesta Halloween kampus “Great Think” di gelar. Tampak semua mahasiswa total menggunakan kostum Halloween, berharap mendapat gelar “Best costume” yang berarti semua mata akan tertuju pada siapa yang mendapat gelar “Best costume”. Tak ada junior dan senior di pesta Halloween, karena semua berhak untuk meraih kostum yang paling menarik. Maria seakan tak berharap menyandang predikat apapun meskipun aka nada nominasi “Geek costume”.

Maria terasa berat untuk meneruskan jalannya menuju tempat pesta Halloween, digenggamnya tangan Jack dengan erat, bukti jika Maria cemas.

“Kita ke halaman di sana aja, yuk.” Maria tak sanggup meneruskan jalannya untuk ke dalam gedung student center. Yang artinya jika berada di dalam dan bertemu dengan Katrina, maka hidup Maria akan berakhir hari ini karena akan menjadi sasaran hinaan teman-teman – khususnya Katrina – apalagi kalau bukan Alice in wonderland berjalan mesra dengan badut? Lebih baik Maria ditelan bumi hidup-hidup daripada bertemu dengan Katrina, mungkin sekarang Katrina berkumpul dengan genngya, yang tak jauh beda dari Katrina yang selalu berusaha menjadi pusat jagad raya.

“Lo duduk di sini ya, gue ambil minum dulu,” Jack mulai melepaskan genggaman Maria yang sebenarnya membuat Jack sedikit tersiksa.

Maria berusaha duduk tenang di atas kursi kayu yang lembab, mencoba menyembunyikan perasaan cemasnya, takut akan menjadi bahan ejekan yang tak ada hentinya. Maria jarinya, berharap Jack cepat datang dari mengambil minum, dan segera keluar dari pesta Halloween ini. Ternyata Maria tak sanggup bertahan di pesta Halloween ini.

“Mariaaaaa.. cepat ke dalam! Jack memulai aksinya!” teriak Michael teman satu kelas Maria.
Maria bingung dengan ucapan Michael, aksi apa? Apa yang dilakukan oleh Jack? Bukannya Jack pergi untuk mengambil minum? Maria mempercepat langkahnya. Benar-benar penasaran apa yang akan dilakukan oleh Jack di tengah-tengah pesta. Maria berusaha menerobos orang-orang yang terlihat antusias melihat aksi Jack, menerjang sekumpulan orang yang bertubuh lebih besar sangat sulit, tetapi Maria sangat penasaran apa yang akan dilakukan Jack. Maria berhasil menerobos dan berada di garis depan untuk melihat aksi Jack. Terlihat Jack berada di tengah-tengah pesta. Senyumnya lebar, terlihat Jack melakukan juggling dengan tiga pisau. Maria tak percaya jika Jack begitu piawai melakukan juggling. Jack menghentikan aksinya dan mulai menyapa semua orang yang ada di pesta ini.

“Well,, selamat malam teman-teman. Bosan bukan kalau hanya melihat atraksi juggling? Kali ini akan menunjukkan aksi yang beda!” tangan Jack menunjuk ke arah kiri, terlihat Katrina diikat di sebuah papan kayu yang lebih besar dari tubuhnya, mata Katrina ditutup dengan selembar kain hitam, begitu juga mulutnya.

“Oh, seharusnya aku tahu jika mereka ingin menjadi pusat perhatian, dan mereka berhasil.” Maria kesal dengan sikap Jack yang berusaha menolong Katrina menjadi pusat perhatian.

“Oke, kali ini aku akan mencoba melempar pisau – pisau ini ke arah Katrina, tentu saja melemparnya dengan mata tertutup, dan aku jamin, tubuh Katrina tak akan terluka sedikit pun.” Kata Jack tampak seperti pemain sirkus profesional.

Jack mulai menutup matanya dengan kain hitam. Mengambil posisi. Melempar pisau satu demi satu. Tapi apa yang terjadi! Ketiga pisau itu sukses menancap ke perut dan dada Kartrina! Tubuh Katrina tampak mengejang menerima serangan pisau dari Jack. Semua orang menjerit! Perlahan-lahan Jack membuka penutup matanya dan tersenyum bahagia dengan aksinya. Jack melihat ke arah penonton yang menjerit dengan aksinya, kemudian berjalan ke arah Maria. Tampak Maria ketakutan, tetapi kaki Maria terasa berat tak mampu berlari untuk menghindari Jack.

“Kamu tahu apa yang menjadi kebanggan dari badut?” ucap Jack lirih.

“Penontonnya, tetapi jika kebanggaanku adalah Katrina dan tak pernah bisa aku membuatnya tersenyum?” lanjutnya.

Maria diam membeku.

“Aku harus menghilangkan penonton yang tak mampu tersenyum.” Jelas Jack singkat kemudian meninggalkan kerumunan.
Sad Clown Royalty Free Stock Photo
credit

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

6 komentar:

  1. Sayangnya nuansa thriller nya ga dijaga dari awal. Jadi seperti agak nanggung, baru di akhir2 Jack berubah jadi psycho gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayangnya bukan thriller yang mau saya tulis.. karena memang orang yang "diam" itu lebih menghanyutkan daripada orang yang berkoar2 tentang kata benci..
      terimakasih komentarnya :)

      Hapus
  2. ternyata ada maksud tertntu dri jack memakai kostum badut ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah,, itu yang saya mau sampaikan.. gak semua orang yang benci kepada kita harus melakukan tindakan karena dorongan rasa benci..
      justru orang yang diam2 menghanyutkan yang harus diwaspadai

      Hapus
  3. endingnya bisa gitu ya?
    haha. jadi serem juga terakhir.
    keren deh

    kunjung balik ya

    BalasHapus
  4. makin penasaran jadinya, ada kelanjutannya gak nih? seru kalo diterusin

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b