Berjumpa Kembali Dengan Ibu

1
Rabu, Desember 11, 2013
Tears in praying Royalty Free Stock Photo
(dari sini)
Aku memantapkan diri untuk menyusuri gang kecil ini, berbekal informasi yang aku dapatkan, akhirnya aku memberanikan diri, sebenarnya ada kata enggan di hati ketika harus menyusuri gang kecil ini, banyak genangan air yang dapat menjadi ranjau setiap saat, belum lagi aroma tak sedap menyeruak karena sampah yang berceceran. Aku heran dengan orang yang dapat tinggal di daerah yang tak layak untuk tinggal.

Di ujung gang, aku melihat seorang wanita yang memang tak muda lagi. Menghiasi bibir keriputnya dengan gincu merah, memakai rok di atas lutut bak penyanyi dangdut terkenal, baju tanpa lengan memperlihatkan lemak di lengannya menggelambir bebas. Merasa tampilannya sempurna, wanita itu mulai tersenyum kepada dua pria yang melewatinya, pria tersebut hanya tertawa dan meninggalkan wanita itu dengan tatapan jijik.

Wanita itu kesal, ternyata tak ada yang tertarik dengannya. Wanita itu berjalan menuju rumah yang tak jauh dari tempat dia berdiri, berjalan dengan hati – hati karena merasa tak nyaman dengan sepatu hak tingginya yang tampaknya masih kinyis – kinyis. Rumah yang dituju wanita itu tampak ramai. Banyak perempuan cantik yang dikelilingi pria nakal yang mencoba menikmati mereka. Kontras sekali dengan wanita itu yang tampaknya belum disentuh oleh pria.

Wanita itu duduk di depan rumah, membuka sepatu hak tingginya dan sesekali memijat tumitnya, memang umur tak dapat ditipu, wanita itu tampak lelah memakai sepatu hak tinggi. Satu pria berjaket kulit menghampiri wanita itu, senyum nakal dan tiba - tiba melancarkan aksinya, matanya tampak melihat wanita itu dengan garang. Tak sungkan, jemari pria itu menjamah sesuatu di dalam rok wanita itu dan tangan yang lainnya meremas dada wanita itu. Terjadi adu suara kenikmatan.

Hatiku miris mendengarnya, tak tahan mendengar mereka yang saling memburu kenikmatan.

“Hentikaaaaaaaaannn!!!” aku berteriak dan berlari menabrak Pria itu, ingin aku membunuhnya.

Pria itu kaget dan hampir tersungkur karena aku berusaha melepaskan Wanita itu dari si Pria

“Ibu, aku mohon pulanglah, adik sakit Bu! Aku nggak tahu harus gimana, aku mohon. Aku janji akan bekerja untuk dapat uang yang banyak. Ibu ayo pulang,” aku berlutut, memohon dengan suara yang menahan isak tangis.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam “Birthday Giveaway “When I See You Again” di blog: http://itshoesand.wordpress.com

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

1 komentar:

  1. Hai, Mbak :) nice ff. Rapi sekali, alurnya lamban tapi pasti dan endingnya ouchh.. perlu belajar banyak nih dari Mbak :))
    Terima kasih sudah berpartisipasi. Salam kenal.

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b