Dunia dalam kardus

3
Rabu, Desember 11, 2013
Ini aku, di tanah lapang tak berpenghuni. Aku bukan pemilik tanah ini, tetapi aku memiliki kehidupan di tanah ini. Jika tak ada aku, tak akan pernah tanah lapang ini ramai dan menjadi pemukiman. Semua orang di tanah lapang ini memiliki harapan dan cita, semua menggantungkan hidupnya di tanah lapang ini. Ini tempat kami tinggal, tapi kami tak bisa memilikinya.

Setiap hari harus mengejar matahari agar kami tak terlambat mengambil rejeki. Semua orang terlelap tetapi kami si penghuni tanah lapang tak akan pernah tidur sampai keranjang - keranjang kami penuh dengan rejeki. Berpacu dalam debu kota yang melekat ditubuh kami. Mentari pagi selalu mengiringi kami untuk bergegas. Cepat dan melesat mencari rejeki di antara gedung - gedung yang semakin tak ramah kepada kami.

Bukan, kami bukan si pemalas yang hanya menggantungkan hidup kepada orang kota, tapi kami percaya jika setiap umat akan mendapat rejekinya masing - masing, "Tak akan pernah keliru!" itu janji Tuhan kepada kami. Sekarang, kami akan bergegas menyambut sisa rejeki yang dibagi Tuhan oleh orang kota untuk kami.

Ya, tumpukkan kardus, cukup untuk membuai kami dalam tidur, memejamkan mata untuk bertemu Tuhan.

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

3 komentar:

  1. setidaknya masih ada usaha ya dibanding harus meminta-minta

    BalasHapus
  2. dari setumpuk kardus lahir harapan untuk mendapatkan rejeki....

    BalasHapus
  3. janji Tuhan selalu ditepati, asalkan kita mau berikhtiar mendapatkannya, maka semua kan menjadi hak kita, meskipun itu hanyalah pelimpahan dari buangan orang2 kota... namun bukankah kardus juga menjadi pintu rejeki bagi hamba-NYA yang selalu bersyukur ... salam ;-)

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b