My Helena

3
Selasa, Desember 31, 2013
“Nggak harus begini kan?” Helena menahan air matanya yang sedari tadi ia bending.

“Aku tahu, tapi ini baik untuk kita,” Rafa coba menenangkan.

“Apa yang baik untuk kita? Bagaimana bisa dua orang yang sedang jatuh cinta, memilih untuk berpisah?! Konyol!!” Helena mulai gusar.

Rafa memegang erat jemari Helena yang tampak gemetar, memendam rasa yang penuh luka. Rafa menarik pelan tangan Helena dan memeluknya, berharap Helena meluapkan segala rasa yang sengaja Helena pendam. Helena tak kuat membendung air terjun yang berusaha ia tahan dibalik mata bulatnya. Tak sanggup lagi Helena memendam rasa kecewa, gadis yang beranjak dewasa menumpahkan air matanya beriringan dengan rasa kecewa yang menghujam hatinya. Hanya menangis yang dapat Helena lakukan saat ini, berharap orang yang ia peluk saat ini, membatalkan niat untuk meninggalkan Helena, apapun alasannya.

“Aku tetap sayang kamu, sweety,” Rafa membisikkan di telinga Helena dengan lembut, berharap Helena mengerti. Sesekali Rafa mengusap halus rambut Helena yang panjangnya sebahu itu.

Rafa telah mantap dengan pilihannya. Bukan, bukan untuk meninggalkan Helena, tetapi memberikan Helena ruang agar dapat mencapai cita – citanya, dan Rafa tak ingin mengusik cita – cita Helena yang sedang ia raih. Keputusan yang diambil Rafa, berawal dari terpilihnya Helena sebagai gadis sampul sebuah majalah. Helena yang telah menapaki dunia kampus, ingin mengekplorasi kemampuan Helena, apapun itu. Sementara Rafa, merasa jika keberadaannya akan merusak segala cita – cita yang ingin diraih Helena, Rafa memutuskan untuk pergi kuliah ke Malaysia. Berusaha untuk mengejar cita – cita meraih gelar sarjana hukum. Memilih meraih cita – cita bersama Helena, mengejar impian di samping Helena, meskipun tak lagi menjadi sepasang kekasih.

Rafa menyudahi pelukannya, memegang erat kedua tangan Helena dan mencium telapak tangannya.

“Besok, kamu mau mengantar aku?” tanya Rafa.

Helena diam, tak ingin menjawab pertanyaan apapun yang terlontar dari mulut Rafa. Yang Helena inginkan adalah Rafa masih berada di sisinya.

“Ayolah sweety, aku ingin melihatmu. Agar aku semangat kuliah di sana,” Rafa menurunkan suaranya, memelas.

Helena mengangguk dengan terpaksa, dipeluknya Rafa, kali ini benar – benar memeluk dengan erat. Menyesap aroma tubuh Rafa, Helena ingin mengingatnya sampai kapanpun, tak ingin melupakan aroma parfum tercampur keringat Rafa yang akan ia rindukan. Helena tak mengira dengan mudahnya Rafa meninggalkannya, hanya karena alasan ingin bersama – sama mengejar cita – cita. Helena tak mengerti, bagaimana bisa sepasang kekasaih memilih berpisah hanya untuk memberi ruang pasangannya agar bebas meraih cita – cita. Helena hanya bisa menumpahkan semua air mata.

Perlahan – lahan Rafa melepas kedua tangan Helena yang melingkar di pinggang Rafa. Rafa tersenyum manis, mencoba menguatkan hati Helena.

“Aku pulang dulu ya, nggak enak nih sudah malam,” ucap Rafa mengakhiri perpisahan mereka.

Helena hanya menggeleng. Tak ingin berpisah dengan Rafa.

“Aku ingin pamit dulu ke orangtuamu, ada?” tanya Rafa.

“Me..mereka masih pergi ke Malang, ada pes..ta pernikahan saudara,” Helena menjawab dengan sesenggukan.

“Ah, iya sih. Aku lupa,” Rafa menyengir, berusaha mencairkan suasana.

“Besok, jam 11 siang aku berangkat dari Bandara Juanda, kamu ikut mengantarku kan sweety?” Rafa bertanya lagi.

“Iya,” ucap Helena lemah.

“Kita, masih bisa ketemu kok, ingat ya kita ketemu lagi, satu tahun kemudian. Di tempat ini, di Bulan Desember.” Janji Rafa.

Rafa mengecup pelan kening Helena yang berhias poni, kemudian tersenyum. Tak sanggup meninggalkan Helena yang masih saja terisak, Rafa mendekap Helena pelan, kemudian melepaskannya, diusapnya rambut Helena dengan pelan. Helena hanya terpaku melihat kepergian Rafa, benar – benar pergi dari pelukan Helena. Bayangan Rafa semakin lama semakin menghilang, Rafa meninggalkan Helena dalam kesendirian. Air mata Helena kembali mengalir dengan deras di pipinya yang bulat.

Helena mencoba merebahkan tubuhnya, dunia Helena terasa sunyi, bukan hanya karena rumah Helena yang ditinggal penghuninya ke Malang, tetapi terasa hampa di hati Helena. Dua tahun, Rafa selalu mengisi hatinya. Sekarang pergi begitu saja. Sejenak Helena ingat dengan janji dengan Rafa, untuk melihat yang terakhir kalinya sebelum Rafa benar – benar jauh dari pandangannya. Cepat – cepat Helena meraih BBnya. BBM Mbak Dina, asisten Helena.

To :

Mbak Dina :

Besok, aku mau mengantar Rafa di Bandara Juanda, dia mau ke Malaysia.

<sent>

From :

Mbak Dina:

Ha? Serius? Kenapa tiba – tiba Rafa ke Malaysia? Oke Darling, besok kamu off aja, aku tahu suasana hatimu, take care Darl.

Helena mengela napas, ingin sekali bercerita panjang lebar kepada Mbak Dina, asisten sekaligus tempat curhatnya. Tapi terlalu sesak hati Helena, dan tak tahu harus mulai darimana untuk bercerita. Helena pelan – pelan memejamkan matanya, berharap esok hari akan ada keajaiban.

*****

Sinar matahari yang menerobos paksa jendela kamar Helena membuat Helena memaksakan matanya untuk terbuka, ada rasa pusing yang menghinggap. Rasa perih yang teramat di hati Helena. Tetapi Helena memaksa kakinya untuk segera beranjak dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi.

Aroma lavender menyeruak dari tubuh Helena yang sudah terbasuh air dan sabun mandi itu. Helena menyiapkan diri, berusaha untuk tetap tenang dengan kepergian Rafa. Ujung jari Helena menemup perlahan pipi Helena agar tampak segar. Namun, mata Helena yang sembap, mempertegas jika Helena benar – benar merasakan kehilangan. Helena segera mengirimkan BBM kepada Rafa.

To :

Rafa :

Maaf, aku tak datang. Terlalu pahit jika melihat punggungmu yang semakin jauh dan tak terlihat. Bagaimana bisa cinta yang telah mengakar di dalam hati, kau paksa cabut? Semoga nanti, di Bulan Desember tak ada yang berubah pada dirimu. Selamat tinggal.

<sent>

Helena dengan cepat menonaktifkan BBnya, karena tak ingin berurusan lagi dengan Rafa, membiarkan Rafa pergi dari sisinya, sangat berat bagi Helena. Helena beranjak pergi dari rumah, entah kemana kaki Helena akan menuntun Helena.

Di seberang sana, di ruang tunggu Bandara Juanda. Rafa menunggu Helena dengan sabar, kemudian sebuah BBM mengejutkan Rafa. Dengan cepat, Rafa segera menelepon Helena, namun BB Helena tidak aktif, membuat Rafa sangat kecewa. Dan akhirnya pergi tanpa ada ucapan selamat tinggal dari Helena.

Sekitar lima belas menit dari terminal Purabaya, Surabaya. Helena sampai ke taman Bungkul, taman yang mendapatk predikat terbaik se-ASEAN ini, merupakan tujuan melarikan diri Helena dari kenyataan. Di taman ini, teringat jelas ketika Helena dan Rafa masih menjadi sepasang kekasih. Berkencan ala anak SMA yang memang tak memiliki banyak uang untuk menghabiskan waktu bersama. Keberadaan taman Bungkul sebagai penyelamat Rafa ketika hanya memiliki selembar uang kertas berwarna hijau. Cukup mentraktir Helena dengan jajanan murah meriah yang terletak di sudut taman Bungkul, sudah membuat hati Helena bahagia.

Helena terus berjalan di taman Bungkul, kenangan akan Rafa terus menyeruak. Memandang bunga – bunga yang selalu tampak segar, merupakan kesukaan Helena yang senang jika Rafa memotret Helena membaur dengan bunga. Kaki kecil Helena kemudian melangkah ke belakang taman Bungkul, terdapat makam Mbah Bungkul. Di luar area pemakaman, terdapat banyak warung makan yang menjajakan kuliner yang lezat, namun ramah di kantong. Helena memesan satu porsi bakso bakar dan es jeruk, berharap menu kegemarannya itu dapat membuat Helena sejenak berhenti memikirkan Rafa.

“Uhuk… uhukkk… uhukk..” Helena memukul dadanya, karena ada satu pentol bakar dengan nakalnya langsung meluncur ke tenggorokkan tanpa terlebih dahulu dikunyah. Helena panik.

“Uhuuukk.. uhuuukkk..” Helena masih saja tersedak dan membuat dadanya semakin sakit, mencoba meminum es jeruk, berharap pentol bakarnya segera meluncur bebas dari tenggorokkan Helena.

“Cepat minum aja!” perintah seorang Pria yang tiba – tiba muncul di sebelah Helena. Tanpa berpikir panjang, Helena meminumnya, ternyata satu gelas teh hangat pahit, mampu menggelontorkan pentol bakar yang menyangkut di tenggorokkan Helena.

“Makasih ya.” Helena tampak lega.

“Sama – sama,” Pria itu tersenyum dan tiba – tiba tertawa melihat tingkah konyol Helena.

“Nggak ada yang lucu!” sinis Helena,

“Lucu tau! Udah gede, eh nggak bisa makan pentol, untung kecil pentolnya, lah kalau gede?” Pria itu spontan tertawa.

“Aku udah bilang makasih!” ketus Helena.

“Namamu?” Pria itu mengulurkan tangannya.

“Helena.” Jawab Helena singakat. Namun, Helena tak menyambut tangan si Pria itu.

“Oh, Lena. Aku Sammy, panggil aja Sam.” Ucap Sammy.

“Lena? Kamu pikir aku Mbok penjual nasi pecel!” dengus Helena. Baru kali ini ada yang memanggilnya dengan sebutan “Lena” biasanya memanggil nama dengan “Helena” atau “Helen”.

“Sewot aja nih, cepet tua loh Mbok,” tawa Sammy.

Helena merasa terganggu dengan kehadiran Sammy yang merusak suasana hati Helena yang sedang terpuruk. Helena memutuskan untuk beranjak pergi, sia – sia mengenang segala kenangan yang telah diciptakan oleh Rafa, namun ada satu orang asing yang dengan seenaknya merusak suasana hati.

“Berapa Buk?” Helena menanyakan berapa harga seporsi bakso bakar dan es jeruk kepada Ibu penjaga warung.

“Dua puluh lima ribu.” Jawab Ibu penjaga warung ramah.

Segera Helena membuka tas selempang berwarna merah muda. Tak percaya apa yang dilihatnya, dompet berbahan kulit yang berisi segala uang lima puluh ribu dan beberapa kartu ATM dan segala macam kartu yang sangat penting, lenyap. Helena berkali – kali memeriksa tasnya, berharap dompet kulitnya terselip, cukup lama Helena mencari, membuat Ibu penjaga warung menyeletuk,”Kalau nggak bisa bayar, jangan makan, emangnya gratis?”. Helena hanya tersenyum kecut.

“Ini Buk,” Sammy memberikan uang kertas berwarna biru, bergambar I Gusti Ngurah Rai kepada Ibu penjaga warung yang sedari tadi tak sabar menunggu Helena untuk membayar.

“Hmmm… makasih lagi.” Jawab Helena singkat.

“Oke.” Sammy mengedipkan mata kanannya.

Ketika Helena akan beranjak meninggalkan Sammy, pergelangan tangan Helena ditarik kasar oleh Sammy.

“Hutang tetaplah hutang, Mbok.” Kata Sammy.

“Apa kamu lihat? Aku tak punya duit. Mungkin kecopetan di bis, tadi,” Helena membuka lebar tas agar Sammy percaya jika Helena tak memiliki uang.

“Mana BB-mu?”

“Ini, mau apa? Emangnya harga bakso sama dengan harga BB?”

“Kamu lucu ya Mbok, aku add PIN BB-ku, besok ketemu lagi ya?” Sammy segera mengembalikan BB milik Helena dan pergi begitu saja seraya melambaikan tangannya.

*****

PING!

From :

Sammy :

Pagi ini aku tunggu di tempat biasa ya Mbok.

“Gila!!” teriak Helena.

“Sayang, kamu nggak apa – apa kan?” tanya Mama Helena, kaget dengan teriakan Helena di pagi hari.

“Nggak apa – apa, Ma. Ada tikus.” Bohong Lena.

“Ayo cepat sarapan, Sayang. Mbak Dina udah telepon ke rumah nih, katanya ada janji ama kamu.” Jelas Mama.

“Iya Ma, sebentar.” Jawab Helena.

PING!

To :

Sammy :

Iya, nanti ketemu, setelah urusanku kelar!

<sent>

Helena memilih sebuah kafe yang jaraknya tidak jauh dengan lokasi tempat bertemu dengan Sammy. Kafe di daerah Darmo, tepat di belakang rumah sakit Darmo, terdapat sebuh kafe yang bernuansa alam. Di depan pintu masuk, terdapat tumbuhan rambat yang sengaja dibiarkan menggantung, di dalam kafe, kita akan disuguhi berbagai mural dengan gradasi warna yang apik. Tersirat pesan dalam mural tersebut, agar selalu menjaga lingkungan tetap hijau, “Green and Clean” sebuah pesan yang memang satu misi dengan tema lingkungan hidup kota Surabaya.

Terlihat di sudut kafe, ada wanita setengah baya ditemani oleh beberapa gadget yang diletakkan begitu saja di atas meja. Si wanita itu tengah tenggelam di dunianya sendiri dengan sebuah tablet yang berharga lima juta itu.

“Udah lama Mbak?” Helena menyapa Mbak Dina.

“Hai Darl, aku turut sedih ya, sini duduk sebelah Mbak,” Mbak Dina member ruang di tempat duduknya, agar Helena duduk di sampingnya. Tetapi Helena memilih untuk duduk di depan Mbak Dina, duduk di kursi kayu jati.

“Langsung aja ya Mbak. Aku mau berhenti dari kegiatan modeling. Aku ingin serius kuliah dulu Mbak,” Helena membuka percakapan.

“What? Kamu serius? Nggak kan? Karirmu akan menanjak, Darl. Aku tahu, kamu sedih, tapi lihat. Ini, aku sedang dikontak oleh agency yang sedang butuh model sepertimu. Please Darl, jangan menyiakan masa depanmu.” Jelas panjang lebar Mbak Dina.

“Mbak, Rafa pikir menjadi seorang model adalah cita – citaku. Tapi, itu salah Mbak, karena aku mampu, aku memberanikan diri untuk menjadi model. Tetapi, malah membuat Rafa meninggalkanku. Aku tak ingin bekerja dengan memiliki rasa tertekan, aku ingin lebih tenang Mbak.” Jelas Helena.

Helena terdiam untuk beberapa saat. Menahan air matanya yang mendesak untuk segera mengalir deras.

“Hmmm okelah Darl, itu keputusanmu. Meskipun aku sangat kecewa dengan keputusan ini. Give me a hug,” Mbak Dina merentangkan tangannya. Helena menyambutnya, sedikit pelukan akan menyamankan antara Helena dan Mbak Dina, karena tak ingin hubungan baik mereka terganggu. Helena segera pergi meninggalkan Mbak Dina.

“Telat dua puluh menit!” kata Sammy menandakan Helena mangkir dari janjinya.

“Eh, aku udah lari ke sini ya, siapa suruh berubah tempat ketemuan, aku cari di warung makan kemarin, eh nongol di tempat bermain anak – anak.” Cerocos Helena.

“Tetap aja kamu telat, Mbok!” kata Sammy sekenanya.

“Ini! Lunas!” Helena melempar uang lima puluh ribu ke muka Sammy dan berlalu.

“Aku nggak butuh duitmu, Mbok!” teriak Sammy. Mendengar hal itu Helena naik pitam dan menghampiri Sammy.

“Kamu pikir bisa beli aku dengan uang!” Helena hendak menampar Sammy, namun dapat ditangkis oleh Sammy.

“Sabar dong Mbok, aku nggak suka main kasar sama cewek,” kata Sammy dengan tenang.

Helena menurunkan tangannya dan berusaha untuk tenang.

“Temani aku hari ini, dan hutangmu akan lunas,” Sammy mengajukan penawaran.

“Kalau aku menolaknya?” tanya Helena.

“Aku nggak maksa. Setidaknya aku mencoba menghiburmu. Hati yang hampa.” Kata Sammy.

Helena terhenyak. Bagaimana bisa Sammy mengetahui jika ada sesuatu yang tak lengkap di hati Helena. Perkataan yang diucapkan Sammy membuat Helena memikirkan Rafa. Sampai saat ini Rafa tak ada kabar, mungkin marah karena Helena tak hadir saat Rafa akan meninggalkan Indonesia.

“Oke aku terima, tapi awas kalau macam – macam,” kata Helena memberikan sedikit penekanan.

“Siap Mbok Lena, eh Helena.” Nyengir Sammy.

Helena tampak pasrah dengan ajakan Sammy yang belum jelas arahnya. Helena merasa penasaran, bagaimana seorang Sammy yang tak jelas asal – usulnya, tiba – tiba menawarkan diri untuk menghibur Helena yang sedang kalut. 

Sammy mengajak Helena ke stasiun kereta api. Cukup jauh jaraknya dari taman Bungkul. Helena heran, kemana Sammy akan membawanya, apa pergi keluar kota? Helena hanya diam, melihat nanti apa yang terjadi. Sammy mempercepat langkahnya, Helena nampak kelelahan.

“Sam, tunggu,” panggil Helena setengah terengah – engah.

“Ayo.” Semangat Sammy.

Ternyata bukan menuju ke stasiun, karena Sammy berjalan menyusuri belakang stasiun. Ada jalan setapak di sana dan menuju ke rumah penduduk yang berderet tak beraturan, terasa sempit dan sesak. Helena menutup hidungnya, karena berbagai aroma yang tercampur, dan membuatnya mual. Sammy tetap melangkah dan berhenti tepat di tengah jalan, Sammy hendak menyeberang.

“Lama banget sih Mbok?” Sammy mengulurkan tanggannya pertanda akan segera menyeberang.

“Bau tau!” sewot Helena.

Mereka bergandengan tangan untuk menyeberang. Setelah di seberang, terdapat warung makan yang nyaris tak terlihat ketika di seberang jalan. Warung cat hijau, penuh dengan pembeli. Lebih banyak sopir truk yang sedang beristirahat. Melihat hal itu, Helena tampak cemas, memikirkan hal yang tidak – tidak terhadap Sammy.

“Kamu mau jual aku ya?!” Helena tampak ketakutan.

“Astaga Mbok, udahlah ikut aja,” Sammy menarik tangan Helena dengan kuat.

“Buk, semanggi dua porsi!’ teriak Sammy kepada Ibu penjual semanggi yang masih sibuk melayani pembeli.

Helena dengan enggan duduk di kursi kayu panjang. Bersebelahan dengan sopir truk yang berkeringat, membuat mual. Namun adanya Sammy, membuat Helena sedikit lega dan merasa aman.

“Ini, makan yang lahap,” Sammy menyuguhkan satu piring semanggi beserta krupuk puli atau semacam krupuk beras.

“Apa ini?” Helena heran.

“Astaga, kamu arek Suroboyo, bukan sih?” Sammy balik bertanya.

“Iya! Tapi aku nggak tahu ini apa?” kesal Helena.

“Ini semanggi, bentuknya ya daun clover.” Jelas Sammy.

“Terus apa gunanya aku makan ini?” Helena masih bingung.

Clover leaf merupakan simbol keberuntungan. Semoga tahun ini, keberuntungan ada di pihakmu.” Jelas Sammy.

“Keberuntungan? Apakah keberuntungan ini akan membawa Rafa kembali kepadaku?” ucap Helena lirih.

“Apa?” tanya Sammy.

Helena hanya menggeleng dan menyantap habis semanggi yang dibumbui sambal ketela. Sammy tersenyum melihat Helena tampak menikmati sajian itu.

*****

“Makasih ya untuk hari ini.” Ucap Helena lembut.

“Ha? Kenapa makasih, kamu punya hutang kan? Tapi sudah beressss Mbok!” canda Sammy.

“Hmmm.. di rumah sendirian? Aku mau pamit ke orangtuamu, boleh?” lanjut Sammy.

“Ah, nggak usah kamu bukan siapa – siapaku, udah sana pergi,” canda Helena.

Mendengar hal itu Sammy tampak murung, usaha mendekati Helena ternyata sia – sia. Akhirnya Sammy pergi dengan harapan kosong.

Sejenak Helena mengamati BB miliknya. Scroll ke bawah untuk mengetahui kabar dari Rafa. Hanya mendapatkan status BB “Semangat!!” dan profile pict Rafa hanya terlihat lambang universitas tempat Rafa kuliah. Helena ingin sekali menyapa Rafa, tapi ketakutan yang tercipta di pikiran Helena membuat ia mengurungkan niat. Bulan Desember, dimana Helena dan Rafa berpisah dan berjanji aka bertemu lagi di bulan yang sama. Namun, satu bulan penuh, Rafa tak kunjung menghubungi Helena. Menanyakan kabar Helena pun tak pernah. Satu bulan Helena menghabiskan waktunya hanya untuk kuliah dan berteman dengan mahkluk entah berantah yang bernama Sammy. Semakin dekat dengan Sammy tampak tak mengusik hari – hari Helena. 

PING!

From :

Sammy : 

Ayo bangun! Dengerin radio di 99,99 FM ya.

Helena masih bingung dengan BBM dari Sammy. Sudah berapa tahun Helena tak pernah menyentuh lagi yang namanya radio dan sekarang Sammy menyuruh mendengar radio. Segera Helena meraih smartphone lainnya untuk mencari gelombang radio yang disuruh Sammy.

“Hai, sobat muda.. kembali lagi dengan Sammy, di acara morning show di 99,99 FM. Hows your morning? Wake up yeah! Untuk yang sedang dengerin dan lagi galau, please deh hari gini galau. Yuk ah lihat matahari yang masih setia bersinar, kalian masih punya masa depan, guys. Believe me.” Sapa Sammy kepada para pendengar radio.

Helena tak menyangka jika Sammy merupakan penyiar radio. Ditekan tombol off untuk menyudahi, karena Helena akan segera bergegas ke kampus untuk kuliah di pagi hari.

PING!

From :

Sammy :

Udah jam istirahat kan? Yuk hang out.

To :

Sammy :

Oke! Jemput aku di depan kampus. S. E. K. A. R.A.N.G!

*****

Helena merasakan kedekatannya dengan Sammy tampak tak biasa ada hal yang tak didapatkannya di diri Rafa. Oktober, tanggal dua puluh Sembilan. Helena berulan tahun. Sammy tak tahu jika hari ini ulang tahun Helena, dan memang Sammy tak membawa kado apapun untuk Helena.

“Tenang, aku tak meminta apapun dari kamu. Aku ingin main ke rumahmu, bolehkan?” pinta Helena.

“Tapiii…,” Sammy tampak ragu.

“Kita sudah berteman berbulan – bulan, namun aku tak pernah tahu dimana rumahmu, bagaimana keluargamu.” Rengek Helena.

“Bagaimana dengan Rafa?” tanya Sammy. Kedekatan dengan Sammy, membuat Helena semakin terbuka dengan Sammy dan memberitahukan tentang hubunganny dengan Rafa.

“Rafa mengganti status BB yang berisi “Happy B’Day sweety” entah itu untuk siapa, karena profil picture selalu saja ada gadis berambut pirang dan salah satu temannya yang berada di sisi Rafa.” Jelas Helena.

“Baiklah, ayo, ke rumah.” Sammy segera menyetujui.

Tak sampai dua puluh lima menit dari rumah Helena telah sampai ke rumah Sammy yang bergaya eropa klasik dengan warna emas yang sangat dominan, tampak megah.

“Sebentar ya,” Sammy bergegas ke garasi untuk memarkir sepeda motornya. Helena mengangguk.

Dipersilahkan Helena untuk masuk ke ruang tamu. Duduk di sofa berwarna emas tampak nyaman. Tak selang beberapa lama. Mama dari Sammy datang untuk menyambut Helena.

“Malam Tante.” Sapa Helena.

Mama Sammy hanya tersenyum sinis.

“Sammy, ikut Mama sebentar!” perintah Mama Sammy. Segera Sammy menyusul Mama di belakang.

Helena tampak canggung dengan suasana seperti itu.

“Sampai kapan kamu menggantung hubunganmu dengan Niken! Apa ini penyebab kamu mengurungkan niat untuk menikah dengan Niken!” bentak Mama.

Helena yang berada di ruang tamu tampak kaget karena terdengar jelas sekali Mama Sammy berteriak dan tampaknya tak menghendaki keberadaan Helena.

“Beraninya kamu membawa perempuan lain selain Niken!” teriak Mama sekali lagi.

Helena memutuskan untuk pergi ke rumah Sammy tanpa pamit. Helena merasa kedatangannya tak diinginkan, meskipun memiliki niat untuk mengenal lebih dekat keluarga Sammy.

Helena mengatur napas yang tersenggal – senggal. Air matanya membasahi pipi. Tak percaya apa yang telah di dengarnya. Helena merasa sebagai orang ketiga antara Sammy dan Niken, perempuan yang baru saja ia kenal dari mulut Mama Sammy.

PING!

From :

Sammy :

Kamu dimana? Maaf aku tak pernah memberitahumu tentang Niken.

Helena merebahkan sejenak tubuhnya yang lelah. Dan membalas BBM dari Sammy.

To :

Sammy :

Kamu nggak ada salah. Aku yang salah membiarkanmu masuk dalam hidupku. Tetapi alangkah pengecutnya kamu lari dari kenyataan karena kamu memiliki Niken.

<sent>

From :

Sammy :

Kita sama, lari dari cinta hanya ingin mendapatkan kepercayaan. Kamu yang lari dari cinta Rafa, bingung apakah Rafa cinta sejatimu. Aku, memilih untuk mengurungkan niat menikahi Niken. Setelah bertemu denganmu. Aku mengetahui apa itu cinta.

Helena sengaja tak membalas. Kantuk dan rasa lelah telah menyergapnya. Helena memilih untuk terbang bersama mimpi.

*****

Desember. Bulan ini penuh dengan kerancuan. Ingin Helena membuktikan ji
ka penantian Rafa tidak sia – sia. Namun di sisi lain, sudah dua bulan Helena tak lagi berkomunikasi dengan Sammy. Sammy yang member Helena napas cinta seperti angin segar. Penuh kejutan. Namun, Helena tak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan Sammy dan Niken.

“Rafa, apakah kamu benar – benar akan menemuiku?” gumam Helena.

“Tak ada kabar sedikit pun darimu, apakah aku harus berharap padamu?” lanjut Helena.

Dilihatnya BB Helena, scroll ke bawah untuk mengetahui status BB dari Rafa. Namun sia – sia, tak ada berubah semenjak bulan Oktober.

Helena menghela napas, beranjak pergi ke Bandara Juanda. Dilihatnya cermin yang berada di kamar. Wajah yang nampak tak percaya akan keajaiban cinta. Terasa berat melangkah ke Bandara ada yang menahan di hati Helena, apakah masih sama yang dirasakan Rafa. Atau Rafa memilih untuk menemukan cinta yang lain di negeri seberang.

Helena berhenti. Mengurungkan niat untuk menyambut Rafa, memilih menghabiskan malam tahun baru ke taman Bungkul. Sekali lagi ke tempat dimana Helena bertemu dengan Rafa dan Sammy. Dua hati yang membuat Helena merasa nyaman. Diambilnya satu buah kembang api, Helena ingin mengucapkan sebuah doa di kembang api itu, agar dia menemukan cintanya.

DUARR!!!!

Suara mercon yang tiba – tiba meledak di samping Helena, membuat Helena kaget dan terasa perih di kakinya, ada rasa panas yang menusuk, tak sengaja serpihan mercon melukai kakinya.

“Makanya, kalau main mercon hati – hati.” Kata sesosok Pria.

Helena mendongak, ada sesosok Pria yang ia kenal. Namun, rambutnya lebih lebat dan jambang yang tampak tumbuh subur.

“Rafa?!” ucap Helena.



Tulisan ini diikutsertakan untuk Nulis Kilat



About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

3 komentar:

  1. aku belum pernah lihat bentuk semanngi secara langsung, taunya semanggi jalanan di jakarta hehehe

    BalasHapus
  2. Lost focus aq jeng... panjang nan bingung hihiih *Maap

    sukses pokok e

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b