Pada Akhirnya

7
Rabu, Desember 18, 2013
"Apa aku harus menemuinya?" keningku berkerut.

"Tidak! Dia tidak akan pernah menerimamu!" serunya.

"Tapi dia adalah Ibuku, dan sekarang Ibuku membutuhkan aku!" alasanku.

"Masih ingatkah kamu, Ibumu yang sengaja membuangmu, Ibumu yang tak pernah mengakuimu!" jelasnya.

"Tapi sekarang dia berubah." Kataku.

"Iya! dia berubah, karena kamu telah menjadi artis terkenal!!" suaranya semakin menggema.

Aku terdiam.

"Masih ingatkah kamu, dulu kamu sendiri di rumah singgah tanpa cinta dari kedua orangtuamu?" lanjutnya.

"Iya, aku sangat kesepian," ada sembilu dihatiku.

"Dari dulu, kamu bukan anak yang diharapkan!!! Ingat itu!!" ucapnya dengan tekanan nada.

"Arggghhh!! tapi aku rindu dia!" teriakku yang mulai terusik dengannya.

"Mengapa kamu merindunya? Kelahiranmu tak pernah diharapkan!!" teriaknya.

Praaaaaannnnggg!!!!!!

Suara kaca berserakan, di tanganku mengalir deras darah segar, aku memukul kaca itu kuat, sekuat rasa benciku kepada Ibu. Ah, dia bukan Ibuku, tetapi wanita yang tak menginginkan kelahiranku.

biiippp..!!

Sebuah pesan singkat dari Adikku

Bang, kamu dimana? Ibu telah tiada, Ibu selalu menyebut namamu. Tapi Abang tak kunjung datang.

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

7 komentar:

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b