Atas Nama Pohon Beringin

2
Sabtu, Januari 04, 2014
Malam ini, langit enggan menampakkan sang rembulan. Hanya ada awan yang bergelantungan, bahkan bersedesak – desakkan untuk menjejali lagit mala mini. Sesekali sang rembulan mengintip di balik awan, kemudian bersembunyi lagi di balik awan. Kali ini angin malam yang setia berhembus, membuat daun – daun di pohon gemerisik, saling beradu.

Tiga pasang mata terlihat awas di balik semak – semak.

“Lu yakin mau mengintai, kalau nggak kebukti, gimana?” tanya Meta memecah sunyi.

“Gue yakin kok, udah tiga teman kampus yang katanya lihat sendiri.” Jawab Rani yakin.

“Udahan yuk.. Gue merinding nih, sumpah,” tampak wajah Ryan pucat antara ketakutan atau menahana kentut, terlalu samar dilihat ketika malam menjelang dan hanya lampu penerang jalan di seberang. Rani melotot ketika Ryan mulai merengek untuk menyudahi perburuan mahkluk gaib di kampus mereka.

Sudah satu minggu ini, Rani, Meta dan Ryan mengumpulkan informasi tentang keberadaan mahkluk dunia lain yang biasa disebut sebagai penunggu pohon beringin yang ada di depan perpustakaan kampus. Anehnya meskipun banyak cerita mistis yang berhembus, pun diiringi cerita romantis di pohon beringin. Jika ada sepasang kekasih yang ingin cintanya abadi, wajib melilitkan surat cinta di akar – akar pohon beringin yang menggelantung bebas.

“Gue nggak percaya dengan mitos yang beredar di kampus!” yakin Rani.

“Tapi nggak gini juga, kan bisa meliput yang lain. Meliput Mahasiswa baru yang berprestasi atau apalah. Nggak keren ah, mading kita diisi liputan beginian,” protes Meta dengan sedikit cemberut membuat bibirnya sedikit monyong.

“Teman – teman harus tahu jika ada kisah nyata yang malah di belokkan begitu saja! Kita harus mengedepankan fakta!” seru Rani dengan nada heroik.

“Emang apa kisah nyatanya?” Meta penasaran.

“Gue yakin kalau ada pembunuhan berantai di pohon beringin itu, itu penyebab pohon beringin nggak pernah ditebang.” Yakin Rani.

“Gila lu Ndro! Eh.. maksudku Gila lu Ran!” teriak Meta lalu nyengir.

“Makin mengada – ada kalau ada cerita pembunuhan” Meta mengeluh.

“Ngopi aja sini.” Celetuk Ryan.

“Busyet!! Lu kira kita buka warung kopi? Bawa termos tiga botol!” Meta gemas dengan sikap Ryan. Ingin sekali memukul, tapi Meta mengurungkan niatnya.

“Kata teman - teman, mereka melihat sesosok wanita berambut panjang yang menjuntai dan tak beraturan, tak pernah menampakkan wajahnya. Teman – teman yang melihatnya ketika kuliah malam. Sesosok wanita itu jalannya terseok – seok dan pakaiannya penuh dengan darah segar yang menetes.” Terang Rani dengan penuh yakin.

Hawa dingin semakin terasa, angin malam menerobos masuk jaket mereka yang begitu tebal. Rani tampak gusar dengan penantian yang lama dan tak ada hasul, Rani keluar dari persembunyian dan berjalan mendekati pohon beringin.

“Sial! Nggak ada apa – apa.” Kesal Rani.

Ryan mendekati Rani yang tampak kesal dan berkata lembut,”Ran, sebenarnya gue,”

“Apa!” ketus Rani.

“Gue bikin surat cinta ini buat lu,” Ryan menyentuh salah satu akar pohon beringin.

“Meskipun kita belum jadian. Aku ingin selalu berada di sisi lu, Ran. Dimana kamu berada, aku akan selalu ada buat kamu,” ucap Ryan tertunduk malu.

“Cinta itu harus diucapkan, Ryan,” Rani tersenyum dan mengecup lembut pipi Ryan.

heart carved in a tree Royalty Free Stock Photo
dari sini

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

2 komentar:

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b