Untukmu Yang Di sana

6
Senin, Januari 06, 2014
Hari ini, tanggal enam Januari. Aku berdiri di sini, di kamar ini. Aku ingin tampil beda, sesuai dengan pintanya, Lelakiku yang menghabiskan waktunya hanya untuk mencintaiku. Aku ingin tampil beda di depannya. Aku berdiri cukup lama di depan kaca, melengkungkan bibir tipisku, mencoba meyakinkan jika aku tampak sangat cantik hari ini. Kupasangkan dress merah muda bermotif polkadot yang panjangnya selutut dengan bando berwarna violet , tampak manis. Kupoles bedak di wajahku, kugores tipis – tipis pemulas bibir berwarna soft pink. Yap! Aku siap untuk hari ini.

“Ma, aku mau ke tempatnya Rifki,” aku berpamitan kepada Mama. Mama hanya diam, melihatku dari ujung kaki hingga ujung rambut.

‘Loh, kemana pergi anak kesayangan Mama yang tomboi?” kata Mama, mencoba untuk menggodaku dengan perubahan yang aku alami.

“Aku ini cewek, Ma! Emang enggak pantas pakai pakaian ini?” aku berputar agar Mama dapat menilai penampilan baruku.

“Kamu cantik,” ucap Mama mencoba menghiburku. Mama tiba – tiba memelukku dan berkata,”Salam ya untuk Rifki, terima kasih sudah menjaga anak Mama”.

“Iya, Ma. Aku juga janji enggak akan nangis lagi. Kalau aku nangis, pasti Rifki juga ikutan nangis,” ujarku dengan mantap. Tak kusangka tangan Mama bergetar saat mengusap rambutku. Aku melepaskan pelukan Mama, jika berlama – lama, aku tak sanggup untuk tidak menumpahkan air terjun mataku ini.

Tempat untuk bertemu dengan Rifki, tidak terlalu jauh, hanya berjarak sepuluh rumah dari rumahku, karena itu aku memutuskan untuk berjalan kaki. Aku terus melangkahkan kakiku, berusaha menguasai diriku, aku akan terus tersenyum saat di depan Rifki dan berjanji tak akan menangis. Kakiku berhenti di tempat ini.

“Hai, bagaimana kabarmu? Aku selalu merindukanmu, kamu tak akan pernah terganti. Hari ini usiamu bertambah satu tahun, hari ini pun tepat satu tahun kecelakaan itu,” tak terasa air mataku mengalir. Aku tak dapat menepati janji untuk tetap tersenyum di depan Rifki, aku mengusap lembut pusaranya.


jumlah kata : 298

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

6 komentar:

  1. Salam,..

    hmm membacanya hingga ending ternyata baru tau kisahnya,...

    jadi sedih,.. :)

    BalasHapus
  2. hiks ternyata Rifki udah gak ada ya

    BalasHapus
  3. udah ketebak dari tengah cerita, pasti rifki udah meninggal.
    tapi tetep aja sih mengharukan. bagus kak :')

    BalasHapus
  4. ini beneran atau cuma cerita mba...? sedih ya. yang penting ada keinginan untuk berubah.

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b