Cerita Cinta Tanpa Hiatus

9
Selasa, Februari 11, 2014
Di tengah taman kota, terlihat sepasang suami istri yang tak saling bicara, sebut saja Ilham dan Wati. Sudah lima belas menit mereka hanya terdiam. Terdiam dengan tatapan yang entah lari kemana.

"Mas, kok diam? Udah enggak suka ya jalan sama aku?" tanya Wati yang berusaha memecah kesunyian.

"Emmm.. anu.. enggak kok Dik," Ilham berusaha menguasai diri, dari tadi pikiran Ilham melayang entah kemana. Melihat gelagat Ilham yang tidak seperti biasanya, Wati mulai menlancarkan tuduhan, "Ngaku deh, udah bosan ya sama aku?". Merasa terpojok, Ilham hanya diam membisu. Memikirkan segala cara agar hati Wati dapat luluh lantak.

"Hmm... kamu tahu enggak Dik, kenapa tadi aku diam saja?"

Tak ada jawaban dari Wati.

"Aku sedang berpikir, selama lima tahun kita menikah, ternyata ada bidadari yang masih setia menemaniku," Ilham meluncurkan jurus mautnya.

Wajah Wati tampak merah merona. Tetapi, Wati berusaha bersikap biasa saja agar tak nampak terkena bujuk rayuan Ilham, suaminya sendiri.

"Halah gombal!" jawabnya ketus.

"Dik, tahu enggak kalau ada yang kurang di taman kota ini?" Wajah Ilham menampakkan keseriusan.

Sejenak Wati mulai memperhatikan sekelilingnya, tak ada yang kurang di taman kota ini. Suasana asri, nyaman, para pedagang tertata rapi, ada tempat bermain untuk anak - anak. Jadi, apa yang kurang di taman kota ini. Wati melihat sekeliling sekali lagi, tapi tidak berhasil menemukan kekurangan dari taman kota ini.

"Enggak ada yang kurang, Mas." Jawab Wati yakin.

"Loh, bukannya kekurangan dari taman kota ini karena enggak ada kupu - kupu di sini," Ilham mencoba menerangkan.

Wati mengangguk, memang tidak ada seekor kupu - kupu di taman kota ini.

"Kupu - kupunya enggak ada karena cemburu, kan ada bidadari yang duduk di sebelahku. Jadi, mana berani kupu - kupu terbang ke sini?" Ilham tersenyum centil ke Wati.

"Ah Mas bisa aja deh," tangan Wati mencubit manja lengan Ilham.

"Mas, aku mau tanya. Kita sudah lima tahun menikah, adakah wanita lain di sisimu?" Wati menatap dalam mata Ilham.

"Justru aku yang ingin bertanya," Ilham meningkatkan volume suaranya.

"Loh, jadi Mas nuduh aku punya pria idaman lain?" Wati merasa terpojok.

"Bukan, aku hanya ingin bertanya. Bidadari enggak mau pulang ke khayangan? Sudah lima tahun menemaniku, apa enggak lelah?" Goda Ilham.

Mendengar perkataan Ilham, pipi Wati semakin merah padam karena tidak bisa menyembunyikan betapa ia tersipu dengan sikap Ilham.

"Aduh Mas, udah dong gombalnya. Aku serius tanya."

"Dik, seharusnya Mas yang berterima kasih sama kamu, yang setia sayang sama Mas dan anak kita. Mas merasa bersalah selama lima tahun ini belum bisa membelikan kamu cincin berlian. Mas hanya bisa mengajak kamu makan malam berdua di luar, maafkan Mas ya?"  Ilham menggenggam tangan Wati kuat - kuat.

"Ah enggak apa - apa Mas, yuk ah makan malamnya di rumah aja. Aku yang masak, kasihan anak - anak nunggu kita di rumah," Wati tersnyum manis.

Rencana semula menghabiska ulang tahun pernikahan dengan makan malam berdua, akhirnya dengan penuh rasa cinta Wati membatalkannya karena ingin memasak masakan yang spesial di hari ulang tahun pernikahan mereka. Sudah lima tahun, cinta yang telah mereka tanam, tak ada rasa lelah tak ada rasa bosan untuk selalu menghidupkan rasa cinta. Percik - percik cinta selalu hadir, agar tak ada jeda untuk tetap saling mencinta. Karena ini cinta tanpa hiatus.


Cinta Tanpa Hiatus

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

9 komentar:

  1. Cintapun bisa hadir lebih kuat lewat masakan..:)

    BalasHapus
  2. heummm...manis bangettt,milih masak sendiri ^^

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Giveaway Cinta Tanpa Hiatus
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  4. moga suksess giveawaynya . .
    ditunggu kunjungan baliknya . . .

    BalasHapus
  5. Aih romantisnya hehehe, emang Bener kok kalau cinta itu bisa awet berkat masakan saya sudah membuktikannya
    Salam kenal

    BalasHapus
  6. hehehe, pesan yang terselipkan pun ngena :)

    memasak sendiri di hari pernikahannya :)

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b