Surat Untuk Mantan

4
Senin, Maret 31, 2014
Dear kamu, hanya untukmu.


Bagaimana aku mengawali surat ini setelah kita mengakhiri perjalanan cinta? Apa yang akan aku katakan kepadamu? Puisi indah pun aku tak bisa, karena Dewa cinta sudah tak lagi bersanding denganku. Apakah aku harus mengawali surat ini dengan sebuah sumpah serapah yang tertuju kepadamu? Aku rasa tidak, karena Dewa kematian telah ragu saat memasuki hatiku karena terdapat sebuah kotak cinta yang penuh sesak oleh namamu.

Mengapa semua menjadi terasa sulit tetapi kita begitu mudah menjawab semua keraguan dengan mengakhiri sebuah hubungan? Mengapa kita mengawali jika semua ini harus diakhiri? Apa hubungan kita sebuah kesia – sian? Tak bisakah kita bahagia tanpa mempedulikan desiran angin yang selalu membisikkan kutukan cinta kepada kita? Terlalu banyak pertanyaan yang menjejali pikiranku.

Saat itu, kita bersama untuk menggapai masa depan. Tetapi, masa depanlah yang membuat jalan kita tak lagi beriringan. Apakah ada rasa sesal di dadamu?

Aku tahu kamu merasa lelah atau mungkin lebih lelah daripada aku dengan terus berdiri di sampingku berperan sebagai kesatriaku. Tidak, aku tidak ingin merayumu untuk kembali lagi ke dalam pelukanku, itu hanya membuatmu semakin sesak. Aku melepasmu karena aku tak sanggup melihatmu menua menungguku, seharusnya kamu menua bersamaku.

Mengapa aku masih saja menulis surat ini kepadamu? Mungkin, aku tak sanggup menatap matamu yang selalu membuat aku ingin berpulang ke dalam pelukmu, sekali lagi.

Apakah ucapan terima kasih dariku dapat kamu terima?

Apakah ucapan terima kasih mampu menyembuhkan luka itu?

Ya, hanya ucapan terima kasih yang aku ingin katakan kepadamu.

Aku tahu jika kita saling menyakiti untuk menutupi rasa sayang yang kita miliki, untuk saling melangkah ke depan meskipun tak saling bergandengan tangan.

Sungguh, aku hanya ingin berterima kasih untukmu, untuk semua hembusan cinta darimu untukku.

Sekarang, bagaiamana aku mengakhiri surat ini? Bukankah kita telah mengakhiri semuanya? Ah, ini membuatku semakin sulit dan semakin tercekik.

Kumohon, jangan pernah kamu menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam surat ini. Pertanyaan ini tak membutuhkan jawaban, karena jawaban tak mampu membuat kita tuk kembali.

Sebuah akhir yang tak ingin aku ucapkan dengan selamat tinggal, namun seharusnya aku akhiri dengan ucapan terima kasih.





Dari aku,

Sebuah awal yang menjadi akhir.



Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel bernard batubara

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

4 komentar:

  1. kayanya bakalan ada yg susah move on deh :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. huwahahahaha... *sesenggukan* *ambil ember* :))))

      Hapus
  2. Tak ada hubungan yang sia2 walau hubungan itu harus berakhir. karena pasti ada pelajaran2 yang kita dapat dari setiap hubungan walau. Perpisahan memang menyakitkan tapi lebih menyakitkan bila tetap bersama tanpa ada rasa dan kepastian

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b