Coastlife

1
Rabu, April 16, 2014
Sudah lima kali atau mungkin lebih dari sepuluh kali mata ini menatap jam tangan yang seakan jarum pendek tak pernah bergerak dan suara dering dari mobile phone yang tak kunjung bisa diam membuatku semakin gila. Apa mereka tidak tahu kalau aku di sini semakin lelah dan terus berpikir bagaimana caranya secepat mungkin untuk datang ke tempat mereka dalam hitungan menit. Ah, semakin lama mereka membuatku semakin gila. Lihatlah aku, yang berdiri hampir satu jam di halte bis. Mengapa bis sekarang ini menjadi barang mewah yang tak kunjung menghampiri halte yang terbuka ini?

Aku ubah dering mobile phone menjadi getar, setidaknya mereka yang menunggu tidak menambah kalutnya aku. Satu jam lagi mungkin aku sukses menjadi orang gila! Kekhawatiranku bertambah karena jarum pendek sudah menunjukkan jam sepuluh malam, apa masih ada bis malam yang beroperasi pada jam sepuluh malam? Dan hanya aku yang berdiri di halte bis. Bukan, bukan hanya ada aku, masih banyak pasukan nyamuk yang sukses menikmati darah dari tubuhku, setidaknya aku tidak merasa sendirian.

Lampu jalan yang masih gagah memancarkan sinarnya, gedung tinggi yang masih menunjukkan geliatnya, masih terlihat orang yang berlalu lalang keluar dan masuk di gedung tinggi, kota ini belum juga tidur. Berbanding terbalik dengan mataku yang terus memaksaku untuk memejamkannya meskipun sejenak. Berbagai macam mobil yang melintas di depanku, membuat jalan raya semakin meriah dengan berbagai warna yang dihasilkan oleh lampu mobil tercampur dengan warna traffic light. Apa tak ada yang melihatku berada di halte dengan atap yang terbuka? Setidaknya, saat ini aku sangat ingin ada seseorang yang kasihan melihatku dan setidaknya memberiku tumpangan. Kota yang tak pernah mati, namun mengapa hati mereka mati ketika tak ada rasa iba terhadap gadis yang berdiri hampir satu jam di halte bis menanti yang tak kunjung datang. Ah sudahlah, apa peduliku mereka akan iba atau tidak, setidaknya aku cukup menikmati kilatan cahaya dari mobil mereka yang melesat, membuat malamku tak gelap.

Bagus! Perutku mulai berontak, mungkin sekitar lima belas menit kemudian aku akan berubah menjadi gadis gila yang kelaparan! Aku membuka tas ransel yang setiap hari menambah beban berat di punggungku. Tas ransel macam apa yang tak ada sesuatu untuk dimakan di dalamnya? Hanya ada berbagai tumpukkan kertas dan buku mata kuliah.

Tiiiiiiiiin!!

Mobil sedan putih berhenti tepat di depanku, perlahan – lahan kaca mobil itu menampakkan seorang gadis berkacamata hitam.

“Hei! Ayo cepat masuk!” teriaknya.

Aku menyipitkan kedua mataku, mencoba menerka – nerka siapa gadis itu, semakin dahiku berkerut, namun tetap saja menjadi sebuah teka – teki.

“Sampai kapan kamu berdiri? Ayo cepat masuk!” teriaknya sekali lagi.

“Mona!” aku meneriakkan salah satu nama sahabatku dan segera bergegas untuk masuk ke dalam mobil, setidaknya aku tidak perlu berlama – lama dengan ditemani nyamuk, mungkin jika aku tetap berdiri, akan ada kelelawar yang akan menghisap darahku.

Hening di dalam mobil sedan putih ini, tak ada percakapan, bahkan yang ada hanya suara decit mobil yang berasal dari rem mobil. Gadis berkacamata hitam itu mengendarai mobil seperti berada di sirkuit perlombaan mobil balap. Tanpa suara apapun, ternyata bisa membunuh waktu. Terbukti gadis berkacamata hitam mampu membawaku ke tempat tujuan dengan cepat dan selamat.

“Makasih ya Mon,” setidaknya aku harus berterimakasih kepadanya.

“Ya, ayo cepat. Teman – teman sudah menunggu.” Gadis berkacamata hitam itu berjalan di depanku, aku semakin menundukkan kepala, membayangkan berbagai gempuran pertanyaan yang akan melayang menujuku.

“Jam berapa ini?!” mulut Nana terbuka lebar seakan – akan siap melahapku.

Aku coba merebahkan kakiku, berdiri terlalu lama di halte bis membuatku tampak sama dengan patung selamat datang.

“Ini,” tangan Mona memberiku satu bungkus berwarna cokelat dengan bercak yang penuh minyak.

“Wah, kamu tahu aja kalau perutku butuh pemadam kelaparan. Maaf ya tadi enggak kenal kamu Mon, tadi kamu kayak tante – tante, baju formal, rambut yang biasanya tergerai panjang, sekarang jadi keriting, ditambah lagi kamu pakai kacamata hitam. Beneran, aku sempat enggak kenal kamu,” cerocosku.

Terlihat mata Mona melotot hampir keluar dari tempatnya. Lebih baik aku sumpal mulutku dengan burger yang sengaja diberikan oleh Mona, meskipun sudah dingin, setidaknya ada makanam yang sebagai pemadam kelaparan.

“Kamu enggak perlu berangkat, batalin aja.” Bety yang membawa nampan berisi minuman mengatakan hal itu tanpa beban.

“Gila aja! Harus berangkat!” ucapku heroik.

“Iya, iya. Kamu pasti berangkat, kalau kamu batal berangkat, sia – sia dong perjuangan kita!” Nana menepuk bahuku yang aku rebahkan di sofa ruang tamu.

Rumah Mona memang pantas sebagai basecamp. Rumah Mona terdiri dari dua lantai, selalu tampak bersih karena ada satu asisten rumah tangga yang selalu sempurna ketika melakukan kewajibannya. Aku, Mona, Nana dan Bety sudah empat tahun menjadi sahabat dekat, sahabat sejak SMA. Rumah Mona menjadi salah satu saksi bagaimana perjalanan hidup kita. Merupakan hal biasa jika kami menginap di rumah Mona, karena orangtua Mona memang sangat jarang berada di rumah, selalu menghabiskan waktu ke luar kota maupun ke luar negeri untuk perjalanan bisnis.

“Susah banget sih hubungin kamu?” Mona menggeser kakiku agar berbagi tempat duduk di sofa.

“Aku kira dari bosku,” aku mencoba menjawab dengan berusaha menelan potongan burger terakhirku.

“Oke, kamu sudah kenyang kan? Sekarang kita mulai diskusi perjalanan kamu,” Mona membuka beberapa lembar kertas.

“Oiya, ini aku sudah beli tiket Surabaya ke Denpasar,” Nana memberiku satu lebar tiket dengan nomor GA 368 membuat semua rasa lelahku luntur seketika.

“Sudah, batalkan saja. Aku enggak yakin kamu bisa bertemu dengan Boyband tercinta,” perkataan Bety membuat kadar rasa gembiraku menurun dratis.

“Lebih baik kamu pulang.” Ketusku.

“Apa kamu sadar, berapa uang yang kamu kumpulkan hanya demi bertemu Boyband yang akan bubar!” Bety nampak gusar.

“Dua bulan yang lalu, berapa uang yang kamu keluarkan untuk konser mereka di Jakarta? Satu juta lima ratus ribu! Dan apa yang kamu dapat? Kaki lecet, sepatu kamu hilang entah kemana, video yang kamu rekam hanya menangkap gambar kepala dari penonton konser, bahkan foto yang kamu ambil berasal dari layar besar, bukan langsung dari panggung idolamu, kan?! Sekarang, kamu bekerja keras untuk membeli tiket meet and greet di Bali!” kali ini Bety tak mampu menahan emosinya, beridiri di depanku dengan telunjuk yang menganyun di depanku, seakan aku telah menjadi terdakwa yang akan segera dijebloskan di penjara.

“Sadar! Kamu melakukan hal yang sia – sia!” Bety mengatur napasnya yang tersenggal karena emosi. Dilipatnya tangan Bety di depan dada dan menunggu jawaban yang keluar dariku.

“Karena ini impianku,” aku mencoba mendongak ke arah Bety, berusaha menerjang Bety dengan tatapanku.

“Jika uang yang telah kamu habiskan hanya untuk bertemu Boyband kesayanganmu, kamu bisa membeli sepeda motor bekas dan tidak akan menunggu bis sampai malam!” teriakkan Bety semakin kencang.

Melihat suasana yang semakin panas, Nona beranjak dari tempat duduk dan mencoba untuk memisahkan aku dengan Bety, ditariknya tangan Bety untuk menuju ke dapur.

“Sabar ya, tenang saja semua ini enggak ada yang sia – sia, kami tetap mendukung kamu untuk pergi ke Bali dan bertemu dengan Boyband kesanyanganmu,” Mona menupuk bahuku agar emosiku tak tersulut. Salah satu alasan mengapa kami lebih suka menginap di rumah Mona, karena Mona seperti kakak tertua di antara kami, selalu mengayomi. Mungkin kemandirian Mona membuat sikap dewasanya muncul.

“Nama boyband itu Coastlife. Aku suka mereka sejak SMP, aku selalu ingin melihat konser mereka di Indonesia, tapi orangtua selalu melarang karena mereka mengadakan konser di Jakarta, dan aku masih terlalu kecil. Sekarang, sudah empat belas tahun aku menjadi penggemar Boyband Coastlife. Secara resmi mereka mengatakan akan bubar, membuatku ingin melakukan hal yang selalu aku impikan sejak SMP. Aku menambah shift untuk kerja paruh waktu, semua untuk mewujudkan impianku,” tak terasa ada tetesan air yang membasahi pipiku ketika aku mengenang Coastlife.

“Tenang, kita pasti mewujudkan impianmu. Ini, sudah aku tulis rencana agar kamu bisa sampai ke tempat meet and greet di Bali,” ujung jari Mona mengetuk meja yang di atasnya berjejer kertas penuh dengan jadwal kepergianku.

“Makasih ya, tapi aku ngantuk. Boleh aku tidur sekarang?” suaraku mengiba.

“Eits, Kamu tahu kan kalau besok kamu harus berangkat di Bali? Baca dulu lima lembar kertas ini yang berisi persiapan dan jadwal kamu.” Mona menaruh tumpukkan kertas di tanganku.

“Kenapa kalian enggak ikutan pergi juga?” tanyaku protes.

“Karena kamu enggak mau merusak acaramu, dan hanya kamu yang jadi penggemar Coastlife,” Mona tersenyum.

Dengan enggan, aku melangkah ke kamar Mona, membaca jadwal acara meet and greet, sekaligus langsung memejamkan mata. Berharap semua jadwal yang telah direncakan dapat berjalan lancar.

***

Kuhirup dalam udara malam ini, menginjak di tanah Bali yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, keyakinan untuk bertemu Boyband Coastlife. Boyband yang berasal dari Negara Irlandia, terdiri dari lima orang lelaki yang memiliki ketampanan di atas rata – rata, kesempatan ini yang aku impikan, bertemu dengan Coastlife, meskipun aku menghadari meet and greet sebuah perpisahan. Coatlife memutuskan untuk bubar.

“The Bay Bali,” aku mengucapnya lirih, tempat di mana acara meet and greet Boyband Coastlife diakan.

Dua pria garang tampak menawan dengan kostum bajak laut, menyanyikan salah satu lagu Coastlife, meskipun mereka hanya band tamu, suara mereka berdua menambah malam cerah semakin terasa romantis, tema yang diusung adalah Pirates bay. Replika kapal bajak laut lengkap dengan bendera hitam dengan gambar tengkorak melengkapi kapal bajak laut, hingga detail berupa sarang laba – laba dan debu membuat kapal tersebut terlihat garang.

sumber : The Bay Bali (pirates bay)

Hanya pendukug acara yang mengikuti tema, sedangkan fans Coastlife, kompak menggunakan kaos yang bergambar wajah para member Coatlife. Aku semakin erat menggenggam kamus kecil Bahasa Inggirs, pemberian Bety. Ya, siapa yang menyangka, ternyata sikap Bety selama ini merupakan suatu bentuk perhatian. Saat melepas keberangkatanku di Bandara Juanda, Bety memberiku kamus Bahasa Inggris, berjaga – jaga jika nanti aku diberi kesempatan untuk bercakap dengan Coastlife. Sahabat merupakan harta karun yang luar biasa.

We want Coastlife… We want Coatlife.. We want Coatlife..

sumber : The Bay Bali (Pirates Bay).

Semua berteriak, tak sabar untuk menyaksikan Coastlife. Dari sisi barat kapal, pria berambut cokelat melambaikan tangan membuat teriakan dari fans semakin histeris, diikuti para member Coatlife yang lainnya, fans mulai menyemut di depan kapal bajak laut. Sekarang, sudah saatnya aku untuk merekam semua ini dengan video recorder yang aku pinjam dari Mona, dan yang paling penting aku harus merekam semua ini di kepalaku, agar kenangan yang aku rekam ini menjadi sebuah kotak Pandora yang paling indah.

Pria berambut cokelat menggigit setangkai bunga mawar merah dan melakukan sedikit tatapan misterius keseluruh fans. Berjalan pelan menuruni tangga yang terdapat di sisi timur kapal bajak laut, teriakan semakin menggema, fans sepertinya tahu apa yang nantinya akan terjadi.

Detak jantung beriringan dengan cepatnya deru napas, mawar merah berada di depan mata, lidah semakin kelu, tak mampu berkata. Mataku tak mampu berpaling dari mawar merah, sorakan dari semua yang berada di acara meet and greet seketika mengembalikan kesadarnku, dengan sekuat tenaga aku menarik bibirku agar terlihat seulas senyum. Pria berambut cokelat masih setia berada di depanku, menggengam mawar merah menungguku untuk mengambil dari tangannya. Tubuhku kikuk mendapat perlakuan yang tak biasa. Tangan kekar pria berambut cokelat menarik pundakku untuk merebahkan tubuhku dalam pelukkannya.



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

1 komentar:

  1. mantap niih ikutan lomba yg hadiahnya ke Bali itu ya Bund hihihi :D

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b