Kemarin, Saat ini, Esok, Selamanya kasih.

3
Sabtu, Juni 28, 2014
Kemarin.

Diaam..

Diaam..

Aku menyuruh tubuh dan segala rasa untuk diam. Meskipun sebenarnya mereka sanggup untuk menjadi saksi, bicara saja kepada mataku, bagaimana ia hanya bisa diam jika setiap sudut mata orang lain yang menatap jijik kepadaku, menatapku seakan - akan aku memiliki kutukan. Merndahkan aku hanya karena aku tak seperti wanita yang telah menikah pada umumnya. Sebelum aku menikah, dicerca berbagai tuduhan, apakah aku menyukai laki - laki, apakah aku mandul, atau malah mahkotaku sudah rusak sebelum menikah. Semua mulut yang menyiksa telingaku, akhirnya aku bungkam dengan tepat tanggal 29 Oktober, laki - laki jantan, anak seorang Kyai desa sebelah menikahiku dengan menggelar pesta pernikahan 3 hai 3 malam, itu belum termasuk acara pagelaran wayang selama 2 hari.

Akhirnya, mulut yang tak ubahnya seperti belati, lambat laun mengunci rapat - rapat. Semua mulut busuk yang mereka punya, akhirnya berubah menjadi mulut yang berbuah manis, meskipun saat aku berbicara berhadapan dengan mereka, yang aku temukan hanya berupa mulut yang manis tetapi berbuah belatung. Mereka menghormatiku hanya karena kedudukanku sebagai mantu Kyai.

Kali ini, belatung yang ada di dalam mulut mereka, mulai bermunculan. Menyebar berita busuk kepada warga desa sekitar, aku hanyalah pembawa bencana, wanita seperti apa yang selama 3 tahun pernikahan, belum juga terdengar tangisan anak kecil? Mantu Kyai seperti apa yang tidak mendapat Ridho ALLAH sehingga perutku tak kunjung ada tanda - tanda jagoan kecil? Wanita kutukan.


Saat Ini.  

Diamm..

Diamm..


Kali ini tidak ada lagi Wanita kutukan, Selama tujuh hari rumah mertuaku (sekaligus rumahku) sejak aku benar - benar positif hamil. Percayalah, aku sangat rindu dengan mulut busuk yang selalu mencerca aku dengan gosip murahan.

Tapi kini, aku benar - benar ingin mengenyahkan mulut busuk itu.

4 bulan jagoan kecilku bermain - bermain dalam perutku, kini tak ada lagi. Semakin menyeruak fitnah - fitnah busuk yang memekakkan telingaku.

Bukan aku yang menyuruhku semua tubuhku untuk diam, tetapi lakiku, aku bisa berbuat apa jika ia yang meminta? Kali ini sebutanku menjadi wanita ceroboh, wanita dungu dan entah sebutan apa lagi yang terdengar langsung dari telingaku.


Esok...

Selamanya..


Diamm...

Diamm...

Apa aku masih diam kasih? Mulut ini kelu jika selalu tertutup rapat tak peduli dengan perkataan mereka yang selalu mengusik hidupku, hidup kita. Apa aku seharusnya mulutku tak hanya diam, namun lantang berteriak kepada mereka?

Sekarang apa, Kasih?

Aku atau kamu yang berbicara lantang?

aku atau kamu yang diam?

atau kita yang sama - sama diam terpaku?

Bicaralah kasih..






**judul, dari lirik lagu Boomerang, namun isi dari cerita ini sangat jauh dari lirik Boomerang - seumur hidupku. Saat mendengar lagu Boomerang, eh jadi nulis ini.


About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

3 komentar:

  1. itu dia keguguran ya?
    cerpennya kayak bergabung dengan puisi gitu ya. keren

    BalasHapus
  2. Kalo saling diam nanti beneran bakal ga ada komunikasi,mba. Salah satu harus ada yang ngalah :D

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b