Kopi, Malam dan Sahabatmu.

0
Minggu, November 30, 2014
Tahukah kamu, apa yang paling berharga dalam hidup? Bukan, jawabannya bukan harta. Tak percaya? Baiklah, aku akan membawamu ke dalam suatu kisah yang membawamu menjelajah untuk menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada harta.

Kisah ini dimulai dari suatu desa yang jauh dari perkotaan yaitu Desa Java. Tak perlu tergesa – gesa untuk bangun pagi agar terhindar dari kemacetan karena penduduk Desa Java bangun pagi untuk bersiap pergi ke sawah maupun ke kebun mereka. Jumlah penduduk Desan Java hanya sekitar tiga ratus jiwa, namun dikelilingi kekayaan alam yang melimpah. Tak perlu berebut udara sejuk dan air bersih untuk memuaskan dahagamu, setiap detik kamu dapat mencicipi air pengunungan yang mengalir deras ke sungai, dan semilir angin yang menyentuh pelan kulitmu. Ketika malam telah datang, tengoklah ke langit. Kamu akan melihat parade bintang yang menkjubkan. Iya, di Desa Java tak ada gedung bertingkat, yang ada hanyalah rumah penduduk yang sederhana, dengan begitu kamu akan melihat bintang menari dengan mata telanjang. Seperti malam sebelumnya, dua pemuda menghabiskan waktunya pergi ke warung sederhana untuk bercengkerama akan masa depan salah satu dari mereka.

“Yu, kamu sudah tahu kan, Pamanku yang dari kota itu datang ke desa ini?” Lukman mengawali pembicaraan mereka.

Ada jeda di sana.

“Hmmm… iya tahu.” Sesekali Wahyu meniup kopi yang tersaji di cangkir gerabahnya.

“Jujur, aku bangga dengan Pamanku itu! Edaaaan, balik ke desa ini bawa banyak uang!” terdengar suar Lukman yang menggebu sama persis dengan kepulan asap dari kopi yang masih panas.

“Aku mau ikut ke kota, Yu! Biar punya banyak uang! Kamu mau ikut enggak?” tanya Lukman yang kali ini menyeruput kopi yang sedari tadi belum juga disentuhnya. Wahyu tampak enggan menjawab, mulutnya masih sibuk mengunyah dan menelan singkong rebus.

“Maaf, Man. Aku enggak tertarik. Kalau aku ke kota, siapa yang akan mengurus Desa Java ini? Kamu tahu sendiri, kalau pemuda di Desa Java hanya segelintir, penduduk di sini masih butuh tenaga kita,” mata Wahyu menyebar ke segala arah, dilihatnya pemandangan Desa Java saat malam hari, rasanya tak tega meninggalkan Desa yang tenang ini.

“Eh, siapa bilang pemuda hanya segelintir. Banyak remaja yang nantinya tumbuh jadi pria gagah. Ayolah! Ikut ke kota, mengadu nasib agar lebih baik.” Ditatapnya mata Wahyu lekat – lekat, agar sahabatnya mengiyakan ajakannya.

Wahyu mengalihkan pandangannya ke Mbok Surti, pemilik warung. Wahyu memanggil Mbok Surti untuk membuatkan lagi kopi hitam. Wahyu tahu, tak akan cukup satu cangkir gerabah kopi hitam untuk menemani malam, apalagi jika ada sahabatmu yang menemani malam panjang.

“Kalau ingin mengadu nasib, mengapa Desa Java tak kamu ikut sertakan? Eh, maksud aku, mungkin kamu bisa mengangkat derajat Desa Java ini lebih tinggi, Agar keindahan alam ini tak hanya dinikmati penduduk di sini," jelas Wahyu panjang lebar.

"Halah! apa yang mau dibanggakan dari Desa Java ini? kehidupannya terlalu sederhana." racau Lukman. Tak terasa kopi yang dinikmati Lukman telah habis tak bersisa, kali ini ia memesan kopi yang kedua. Sementara itu, Wahyu menatap kopi yang di depannya dengan lekat, namun pikirannya melayang.

"Nah!" tiba - tiba Wahyu memiliki ide. Lukman kaget dengan suara Wahyu yang mengagetkannya, kopi kedua yang ia tiup pelan - pelan akhirnya tumpah ke celananya.

"Bagaimana kalau kamu promosikan kopi Desa Java ini. Biji kopi dari Desa Java ini, kualitasnya terjamin!" Wahyu tampak semangat mempromosikan salah satu hasil bumi yang banya digemari oleh penduduk ini. Lukman memperhatikan dengan seksama apa yang dibicarakan oleh sahabatnya itu, wajah Lukman tampak tertegun, bagaimana bisa seorang sahabat yang sehari - harinya melakukan kerja kasar bisa memiliki ide secemerlang itu. Lukman tahu, tujuan dari penjelasan Wahyu, agar kesuksessan tak hanya dinikmati sendiri, namun dapat dirasakan orang - orang sekitar. Hidup akan berarti jika memiliki tujuan yang bermanfaat.

Obrolan Wahyu dan Lukman berakhir dengan kesepakan mereka berdua untuk memajukan Desa ini melalui kopi. Siapa tahu, jika kualitas biji kopi yang yang super akan digabungkan dengan teknologi yang dimiliki oleh orang kota, hasilnya akan menakjubkan. Tak terasa, kopi yang menghangatkan mereka berdua dari angin malam, juga menyambut mereka dengan tantang baru untuk memajukan Desa Java.



Kopi + sahabat...... Ini baru hidup.



Dibalik secangkir kopi
  


*tulisan ini merupakan buah dari imajinasi si penulis.

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

0 komentar:

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b