Sepasang sandal.

3
Senin, Desember 01, 2014
Beach Sandals Royalty Free Stock Photo
istockphoto.


Bulan Desember, usiaku tepat dua puluh delapan tahun. Ucapan selamat ulang tahun mulai berdatangan hingga aku sibuk membalas doa - doa dari mereka. Tapi, tidak seperti ulang tahun di tahun - tahun sebelumnya, doa untuk ulang tahunku tahun ini adalah segera menikah. Oke, mungkin dengan umur dua puluh delapan tahun dan masih single, bagi sebagian temanku merupakan usia yang berada di zona merah yang bertuliskan, "Segera menikah kalau kamu tidak mau dikatakan perawan tua!".

Tidak bisa aku pungkiri, timbul rasa iri ketika melihat beberapa temanku yang sudah melepas masa lajangnya, bahkan banyak juga di antara mereka yang sudah menggendong buah hatinya, bahkan di beranda sosial media banyak yang mengunggah foto lucu bayi mereka. Tapi, apakah mereka berpikir kalau aku terlambat untuk menikah? Hei! Aku sama sekali tidak percaya dengan istilah terlambat menikah! Hanya saja, aku belum bertemu dengan jodohku. Tenang, aku masih bisa merasakan sengatan listrik berkuatan rendah saat bertemu dengan lelaki tampan dan merasakan getaran jika aku disentuhnya, aku masih normal sebagai wanita.

Apalagi saat satu tahun yang lalu aku bertemu dengan dia, sepasang mata cekung namun tajam, senyum tipis di rahang yang tegas. Seorang laki - laki yang selalu hadir di setiap lamunanku. Rido, nama lelaki itu, pemuda yang aktif di masjid depan rumah. Cukup sulit berkenalan dengannya, ya kalian pasti tahu, hampir tidak mungkin aku menjabat tangan Rido, pemuda masjid yang taat akan agama, pastinya menjaga jarak dengan seorang muslimah sepertiku. Beruntung, Rido merupakan pemuda masjid yang aktif dalam berorganisasi, aku mengetahui namanya dari selebaran undangan acara keagamaan. Ironi memang.

Semenjak aku memutuskan untuk lebih rajin salat berjamaah di masjid, sejak saat itu pertemuanku dengan Rido cukup intens. Rasanya kaki mulai lemas, wajah memucat, keluar keringat dingin saat berhadapan dengannya. Dan kali ini aku cukup beruntung, melihat Rido duduk seorang diri di serambi masjid sebelah barat, Rido tampak serius membaca sebuah buku, memang serambi masjid di sebelah barat terdapat rak buku kecil tentang agama, semua orang boleh membacanya, asal tidak dibaca di rumah. Selain itu, serambi masjid sebelah barat lumayan dekat dengan tempat wudhu untuk wanita. Ya, setidaknya aku bisa berpura - pura lewat serambi masjid dengan alasan ingin ke tempat wudhu.

Dengan perlahan - lahan aku melangkah agar tak menimbulkan suara yang bisa mengagetkan Rido. Tanganku mulai berkeringat, jantungku mulai berdebar kencang, aku meremas bajuku dan menggigit pelan bibir bawahku. Oh tidak, aku seperti seorang pencuri kotak amal di masjid. Sepasang mata tajam itu kini menatapku, layaknya buronan yang tertangkap basah, aku tidak bisa bergerak, sungguh aku membeku dengan wajah pucat. Rido mulai beranjak, aku memutar otak dan segera mengurungkan niat untuk melewati serambi masjid dan segera untuk lari sejauh mungkin. Tidak, tidak mungkin, Rido mulai berjalan mendekatiku, aku mulai bergegas meninggalkan masjid, dan entah bagaimana aku merasa wajahku seperti kepiting rebus ketika tertangkap basah.

"Mbak... mbak." Suara berat Rido membuatku tercekat. Tidak mungkin Rido memanggilku. Tapi, siapa lagi mbak - mbak yang dipanggil Rido kalau bukan aku? Serambi masjid ini hanya ada Rido dan aku.

"Mbak... mbak." kali ini suara Rido semakin lantang membuatku salah tingkah, di sisi lain aku ingin sekali berbicara dengannya dan berkata kalau aku menyukainya. Di sisi lain, ada perasaan yang menyangkal jika Rido memiliki perasaan yang sama.

"Aku suka kamu, Do!" aku menoleh ke arah Rido dan mengucapkannya dengan setengah berteriak. Akhirnya kalimat itu keluar begitu saja. Apaaaa!!! apa yang baru saja aku ucapkan!

Ada jeda di antara kami.

"Maaf, sandal yang kamu pakai. Itu milik saya," Rido menunjuk ke arah bawah, tepat di kakiku yang sedang memakai sandal berwarna kuning. Oh Tuhan, rasanya aku ingin ditelan bumi saat ini juga! Aku mencoba tersenyum meskipun senyuman itu cukup canggung. Baiklah, saat ini waktu yang tepat memerankan Cinderella, meninggalkan sepasang sepatu kaca meskipun saat ini aku memakai sandal, dan mulai lariiiiiiiii...





621 kata.



“AttarAndHisMind First Giveaway” 

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

3 komentar:

  1. wikikik... keGe-eR-an duluan

    BalasHapus
  2. hahahaaha..... ga tau deh...kalau itu kejadian sama aku...

    BalasHapus

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b