Kain merah untuk lelakiku

1
Rabu, Februari 18, 2015
Selembar kain merah yang dia berikan padaku memang sudah pudar warnanya, entah apa bisa dibilang kain merah, bahkan banyak noda dan tak layak untuk jadikan barang istimewa yang aku simpan di lemari bajuku. Tapi ini bukan sembarang kain, kain ini dari dia. Teman baikku sekaligus teman dari kecil, panggil dia Akbar.

Kain merah ini aku dapat saat ulangtahunku yang kelima, Akbar tak tahu kado apa yang aku suka, akhirnya dia mengambil kain merah sisa dari tukang jahit. Coba saja pikir, bagaimana bisa Akbar tidak mengetahui kado yang disukai oleh perempuan kecil, apa dia tak tahu jika aku terus membicarakan boneka panda yang dijual di depan sekolah. Apa dia tidak tahu jika aku sangat menginginkan boneka panda itu. Tapi, yang dia berikan hanya kain sisa, alasannya kain ini bisa dijadikan sapu tangan cantik karena aku suka berlari hingga keringatku bercucuran tak ada hentinya.

Tapi, karena kain merah ini, aku sudah tahu apa yang aku inginkan selama ini. Bukan, bukan boneka panda, atau kain sisa yang lainnya. Yang kuinginkan hanyalah Akbar, teman yang tak pernah lelah selalu berlari mengikutiku, selalu ada di sampingku saat aku ingin bersandar. Hari ini, hari yang istimewa bagi Akbar, setidaknya, aku ingin mengatakan semuanya.

Akbar berada di tepat di depanku, semakin erat kain itu aku genggam meskipun agak basah karena keringatku.

"Akbar, terimakasih ya. Suka atau tidak suka, aku tetap menunggumu, meskipun itu butuh waktu seribu tahun lagi," ucapku tegas. Akbar terlihat kikuk, aku tahu karena di sampingnya nampak mempelai wanita yang telah menikah dengan Akbar.


Flash fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis

About the author

Random Blogger | Penimbun Buku | Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan abadi | kontak[dot]sari[at]gmail[dot]com

Comments

1 komentar:

terimakasih telah berkunjung..
sepatah dua kata komentar sangat bermanfaat bagi blog saya ^.^b